Senin 01 Jan 2024 03:00 WIB

KLHK: Realisasi Rehabilitasi Hutan dan Mangrove Seluas 185 Ribu Hektare

Pencapaian ini sangat patut disyukuri, sebab 2023 RI diterjang fenomena El Nino.

Warga beraktivitas di pesisir pantai di Kawasan Konservasi Mangrove Layana di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (11/11/2023).
Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Warga beraktivitas di pesisir pantai di Kawasan Konservasi Mangrove Layana di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (11/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan selama 2023 realisasi program rehabilitasi hutan dan mangrove mencapai 185.010 hektar (ha).

Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) KLHK Dyah Murtiningsih menyebutkan, luasan tersebut meliputi rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) mencapai 179 ribu ha. Khusus rehabilitasi mangrove mencapai 6.010 ha, baik yang berada di dalam maupun di luar kawasan hutan, melalui berbagai skema dan dari berbagai sumber pembiayaan (APBN, APBD, swasta, swadaya masyarakat).

Baca Juga

"Pencapaian ini sangat patut disyukuri, karena sepanjang 2023 kita menghadapi fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau yang panjang dan bergesernya musim penghujan," ujar Dyah melalui keterangan tertulis di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara itu untuk dukungan penyediaan bibit bagi kegiatan RHL tersebut berasal dari 54 persemaian permanen, enam pusat persemaian skala besar, dan kegiatan pembibitan lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah penyediaan bibit yang berasal dari persemaian tersebut mencapai 37,8 juta batang dan ditambah 5,15 juta batang, yang berasal dari bibit produktif.

Sekarang ini, tambahnya, juga masih dalam proses pembangunan tiga pusat persemaian skala besar di Liang Anggang di Kalimantan Selatan, Kemampo di Sumatera Selatan dan Mandalika di NTB.

"Pembangunan pusat persemaian ini dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan swasta," kata Dyah saat memaparkan Refleksi Akhir Tahun 2023 KLHK .

Guna memastikan dan meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan RHL, maka sejak 2022 telah diterapkan geotagging dan drone mapping yang menjadi salah satu cara untuk memastikan setiap bibit yang ditanam tergeoreferensi secara spasial dan dapat dipantau perkembangannya. Menurut Dyah kolaborasi semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, sektor swasta dan masyarakat dalam kegiatan RHL perlu terus ditingkatkan, selain itu juga dukungan internasional.

Sementara itu, tambahnya, pada 30 Desember 2023 telah dilakukan kegiatan penanaman pohon serentak di seluruh provinsi, guna memanfaatkan musim penghujan di 2023 dan 2024. "Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan dan sekaligus percepatan RHL guna meningkatkan tutupan lahan dan meningkatkan cadangan karbon, serta peneguhan komitmen pemerintah untuk memenuhi target NDC dan FoLU net sink 2030," kata Dyah.

 

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement