Selasa 16 Jan 2024 19:53 WIB

Peneliti: Tidak Ada Aktivitas Manusia yang tidak Menghasilkan Limbah

Meningkatnya populasi manusia, maka semakin meningkat pula limbah di dunia.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Jumlah limbah berupa sampah yang semakin banyak tidak bisa didegradasi secara alami.
Foto: www.freepik.com
Jumlah limbah berupa sampah yang semakin banyak tidak bisa didegradasi secara alami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seiring meningkatnya populasi dan aktivitas manusia, meningkat pula jumlah dan ragam limbah yang dihasilkan. Peneliti Ahli dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sumaryati mengungkapkan bahwa tidak ada aktivitas manusia yang tidak menghasilkan limbah.

“Jumlah limbah berupa sampah yang semakin banyak tidak bisa didegradasi secara alami, sehingga terjadi penumpukan. Namun sayangnya pengelolaan saat ini belum mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak,” ungkap Sumaryati seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga

Sumaryati menyebutkan berdasarkan riset yang dilakukannya, pengelolaan limbah secara sehat saat ini belum mendapat perhatian dan menjadi prioritas atau menjadi bagian dari political will. Untuk pengelolaan sampah khususnya perkotaan saja, saat ini masih mengandalkan sistem open dumping.

“Open dumping ini dilakukan karena murah dan mudah. Di mana ada daerah yang berbentuk seperti cekungan lalu jauh dari pemukiman langsung bisa jadi tempat sampah,” jelas Sumaryati.

Secara estetika, sistem open dumping menciptakan dampak kumuh terhadap lingkungan. Bahkan Sumaryati menegaskan hal ini dapat mengancam kesehatan lingkungan yang disebabkan oleh limbah, bau, serta munculnya berbagai vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, tikus dan sebagainya.

Lebih lanjut dirinya menerangkan bahwa proses dekomposisi yang terjadi pada sistem open dumping menghasilkan limbah cair yang akan mencemari air dan tanah. Selain itu, limbah cair ini menjadi polusi udara yang luar biasa karena penguapan bau ke udara secara terbuka. Menurutnya, keadaan tersebut akan lebih parah lagi ketika terjadi kebakaran atau pembakaran.

“Sampah ini menghasilkan gas metan. Dalam kondisi kering, ketika ada pemicunya akan sangat mudah terbakar dan menciptakan polusi udara yang luar biasa,” tegasnya.

Sumaryati mengungkapkan selain karena sifat kebakarannya tidak terkendali, kurangnya pasokan oksigen karena material yang terbakar bertumpuk-tumpuk kemudian temperaturnya relatif lebih rendah membuat pembakaran menjadi tidak sempurna.

“Karena pembakaran tidak sempurna maka CO2 itu hanya sedikit dan yang relatif banyak dihasilkan yaitu dalam bentuk asap. Pada asap yang dihasilkan ini terdapat unsur karbon dan juga beberapa logam berat,” tuturnya.

Sumaryati merinci, unsur karbon yang tidak terbakar sempurna menjadi CO2 akan terbentuk menjadi karbon monoksida dan hidrokarbon. Hidrokarbon terdiri dari banyak unsur yang dipisahkan menjadi metan dan non metan hidrokarbon. Semua polutan yang dihasilkan ini akan langsung dilepas ke udara.

Sumaryati mengingatkan bahwa kebakaran atau pembakaran yang tidak langsung menjadi CO2 sangat berbahaya. Di atmosfer semua gas non metan hidrokarbon akan mengalami reaksi yang panjang dan komplek menjadi metan. Gas metan mengalami reaksi yang panjang menuju CO, dan terakhir gas CO teroksidasi menjadi CO2.

“Ini berdampak bagi lingkungan,” tegas Sumaryati.

Bukan tanpa alasan, jelas dia, jika gas non metan hidrokarbon ini banyak mengandung polutan yang sifatnya mutagen atau merusak kromosom untuk mikroorganisme yang dapat menyebabkan sel menjadi abnormal, kemudian karsinogen atau zat yang dapat menyebabkan penyakit kanker, lalu teratogenik atau racun yang akan mengganggu pertumbuhan janin serta imunotoksik atau mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Dengan mengutip desain incinerator yang ideal dari Diego Moya tahun 2017, Sumaryati memberikan perbandingan pembakaran melalui sistem incinerator. Pembakaran melalui sistem incinerator dilakukan bertahap yaitu pembakaran dengan melalui pembakaran yang dikendalikan, pasokan oksigen yang tercukupi serta temperatur yang tinggi sehingga pembakaran ini hampir sempurna dengan tingkat CO2 yang tinggi. Sedangkan di tahap selanjutnya akan dilakukan pembakaran untuk membakar gas non CO2 untuk menjadi CO2.

“Gas buang melalui electrostatic precipitator akan di filter untuk mengambil partikulat. Kemudian dialirkan dalam scrubber untuk menyerap polutan asam hingga akhirnya dilepaskan ke atmosfer,” kata dia.

Sebagai informasi, insinerasi merupakan teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik. Insinerasi menghasilkan abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement