Senin 29 Jan 2024 15:57 WIB

Isu Lingkungan Dinilai Jadi Faktor Kunci Pemilih Muda 

Pemenangan capres belum mampu jawab keresahan anak muda terhadap masalah lingkungan.

Acara Festival Pemilu yang diinisiasi Bijak Memilih dan didukung pilahpilih.id beberapa waktu lalu.
Foto: dokpri
Acara Festival Pemilu yang diinisiasi Bijak Memilih dan didukung pilahpilih.id beberapa waktu lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para Juru Bicara tim Pemenangan ketiga Pasangan Capres-Cawapres yang hadir dalam acara Festival Pemilu dinilai belum dapat menjawab keresahan para pemilih muda terkait isu lingkungan. Acara yang diinisiasi Bijak Memilih dan didukung pilahpilih.id ini dihadiri ribuan calon pemilih muda dan pemula serta perwakilan KPU dan 18 partai politik yang akan mengikuti Pemilu 2024. 

"Para perwakilan tidak ada yang menyebutkan spesifik jumlah target bauran energi. Mereka hanya bilang transisi energi dari batu bara menjadi energi terbarukan sebagai salah satu prioritas. Normatif saja, tanpa ambisi yang jelas," kata Pemimpin Inisiatif PilahPilih, EF Mutia, dalam siaran persnya, Senin (29/1/2024). 

Mutia juga menyayangkan permasalahan batu bara tidak dibahas dalam kesempatan tersebut. Misalnya saja, tidak ada pembahasan mengenai rencana pensiun pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU) sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar. Padahal, 1.035 pemilih muda memandang isu transisi energi sangatlah mendesak untuk diselesaikan oleh Presiden dan Wakil Presiden Terpilih. 

Hal ini terungkap dalam survei digital yang dilakukan oleh pilahpilih.id. Menanggapi pertanyaan pemilih muda tentang transisi energi, Tom Lembong Co-captain dari paslon nomor urut 1 menyatakan bahwa pihaknya memberi tempat bagi transisi energi pembangkit listrik berbahan bakar fosil ke energi baru terbarukan. 

 

"Utamakan geotermal karena cadangan kita luar biasa 30.000 gigawatt di mana yang terpasang baru 1.200 gigawatt. Bagaimana caranya? Dengan menanggung renteng resiko dari eksplorasi. Karena resiko eksplorasi ini tinggi, tidak bisa cuma diserahkan ke swasta. Pemerintah harus memberi jaminan, selain itu juga tenaga surya kita yang luar biasa dan biomassa”, jelasnya. 

Satya Heragandhi, timses paslon nomor urut 3 mengungkapkan hal senada tentang pemanfaatan sumber energi terbarukan. "Energi menarik sekali karena bicara energi terbarukan, teman-teman harus tahu energi terbarukan itu cuma hidup separuh hari. Seperti solar cell itu di malam hari tidak bisa. Angin juga begitu. Jadi harus ada energi baru terbarukan yang sifatnya base seperti geothermal, gas dan sebagainya. Jadi kita prioritaskan keduanya dari base dan energi terbarukan dan pelan-pelan kita tinggalkan fosil secara bertahap," katanya.

Di sisi lain pemaparan timses paslon nomor urut 2 menekankan pentingnya potensi ekonomi. Astrio Feligent menyatakan, ”Transisi ke energi baru terbarukan pun harus dilakukan tanpa mengorbankan potensi ekonomi Indonesia. Itu yang harus digaris bawahi. Kedua, ketika kita bicara hari ini mau transisi perlu kita ingat bahwa batu bara adalah salah satu penyumbang surplus ekonomi kita dan subsidi listrik dalam elektrifikasi seperti kendaraan listrik masih lebih baik, dibanding subsidi kendaraan BBM.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Jazilul Fawaid dari PKB yang mendukung Pasangan Calon Nomor Urut 1, Ade Armando dari PSI pendukung Paslon Nomor Urut 2, serta Masinton Pasaribu dari PDIP yang mendukung Paslon Nomor Urut 3. 

Menanggapi jawaban para timses kandidat presiden dan wakil presiden terkait isu iklim dan lingkunga akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM yang juga merupakan advisor di pilahpilih.id, Mahesti Hasanah menyampaikan bahwa setiap calon pemimpin di ajang Pemilu mendatang harus menyadari pentingnya kontekstualitas dengan isu yang berkembang saat ini. Untuk meraup suara pemilih muda, konteks lingkungan penting untuk dipahami. Hal ini didukung dengan hasil survei yang dilakukan pilahpilih.id yang mengungkap 97 persen responden survei yang merupakan anak muda berpendapat akan sangat mempertimbangkan dan cukup mempertimbangkan masalah lingkungan saat memilih pemimpin di pemilu 2024, sehingga isu lingkungan menjadi faktor kunci bagi pemilih muda dalam pesta demokrasi mendatang. 

"Nah artinya apa? Kalau pemimpin tidak kontekstual dan aware soal ini, maka tidak bisa adaptasi. Sementara porsi pemilih pemula dan anak muda itu sangat tinggi dan anak muda saat ini memanfaatkan media untuk menyuarakan keresahan mereka termasuk dalam isu lingkungan dimana mereka terdampak secara langsung," jelas Mahesti. 

Sebelumnya, survei daring yang dilakukan oleh pilahpilih.id terhadap pemilih muda dari 36 provinsi juga mengungkap bahwa 90 persen responden khawatir terhadap masa depan lingkungan. Selain itu temuan di survei pilahpilih.id juga menunjukkan bahwa 87 persen pemilih muda merasa bahwa isu lingkungan belum cukup dibahas secara mendalam di berbagai diskusi politik menjelang pemilihan umum.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement