Rabu 21 Feb 2024 13:50 WIB

Perubahan Iklim Rusak Habitat di Australia, Ratusan Spesies Terancam Punah

Australia mengumumkan ratusan tanaman dan hewan terancam punah akibat krisis iklim.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Perubahan iklim merusak habitat tanaman dan hewan di Australia, dan mengancam ratusan spesies punah.
Foto: Pxhere
Perubahan iklim merusak habitat tanaman dan hewan di Australia, dan mengancam ratusan spesies punah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim, kerusakan habitat, dan spesies invasif menimbulkan malapetaka bagi keanekaragaman hayati di Bumi, termasuk di Australia. Pada tahun 2023, pemerintah federal Australia menambahkan 144 tanaman dan hewan ke dalam daftar spesies yang terancam punah, termasuk spesies ikonik seperti burung kakatua merah muda, lobster berduri, dan earless dragon.

Corey JA Bradshaw, peneliti utama sekaligus profesor ekologi di Flinders University, mengungkapkan bahwa masih banyak spesies yang akan masuk ke dalam daftar spesies yang terancam punah. 

Baca Juga

“Perubahan adalah hal yang konstan. Ketika dunia memanas dan ekosistem berubah, kombinasi spesies baru dapat muncul tanpa hubungan evolusioner, menciptakan komunitas baru. Masih mungkin untuk menghentikan kepunahan spesies. Namun, hal ini membutuhkan upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Bradshaw seperti dilansir the Conversation, Rabu (21/2/2024).

Krisis kepunahan spesies modern masih tergolong baru. Antara tahun 1970 dan 2018, populasi satwa liar di seluruh dunia turun hampir 70 persen. Namun, penurunan populasi ini tidak merata - Amerika Latin dan Karibia telah kehilangan sekitar 94 persen individu dalam populasi liar. Afrika telah kehilangan 65 persen, Asia-Pasifik sekitar 45 persen, sementara Amerika Utara dan Eropa kehilangan 45 persen, serta Asia Tengah 33 persen.

 

Dalam 250 tahun sejak penjajahan bangsa Eropa, setidaknya 100 spesies unik Australia telah punah. Itu berarti sekitar 6 hingga 10 persen dari seluruh kepunahan yang tercatat di seluruh dunia sejak tahun 1500. 

“Jika kita melihat mamalia saja, kita memiliki rekam jejak terburuk dibandingkan negara mana pun,” ungkap Bradshaw.

Ia menjelaskan bahwa kepunahan tidak terjadi dalam semalam. Spesies yang berlimpah bisa saja terpapar oleh predator baru seperti kucing liar. Populasinya bisa jatuh ke titik di mana ia terdaftar sebagai terancam, yang berarti ia memiliki peluang besar untuk punah dalam waktu dekat.

Jika spesies ini tidak dapat beradaptasi dan tidak ada upaya apapun dari pemerintah, spesies ini dapat menjadi sangat terancam punah dan menurun menjadi beberapa ratus individu. “Dan jika tekanan terus berlanjut, mereka bisa punah di alam liar. Begitu juga jika kebun binatang tidak dapat membangun populasi perkembangbiakan atau kita tidak mengetahuinya, seluruh spesies bisa punah,” tegas Bradshaw.

Menurut dia, daftar spesies yang terancam punah di Australia sangat berguna untuk membantu para pemegang kebijakan memprioritaskan spesies mana yang harus dibantu. Namun, daftar ini tidak menunjukkan jumlah spesies yang sebenarnya dalam bahaya. Ada beberapa kesenjangan yang sudah diketahui, seperti banyak invertebrata yang telah punah tanpa diketahui karena sifatnya yang tertutup dan ukurannya yang kecil.

Daftar ini kemungkinan besar melewatkan kelompok-kelompok lain yang kurang dikenal atau sulit diteliti seperti mikroorganisme, spesies laut yang sulit ditemukan, ular dan kadal, dan tanaman langka. Daftar ini juga tidak memperhitungkan spesies yang saling bergantung satu sama lain, seperti tawon yang bergantung pada satu spesies untuk menjadi parasit dan penyerbuk yang berspesialisasi pada beberapa jenis bunga. Namun, interaksi yang kompleks ini sangat penting bagi fungsi ekosistem yang sehat.

“Untuk mendaftarkan suatu spesies sebagai spesies yang terancam, dibutuhkan kerja keras. Pada saat kita telah membuat katalog semua spesies di Bumi, diperkirakan membutuhkan waktu 100-200 tahun dengan tingkat penemuan saat ini,  para ahli memperkirakan sebagian besar spesies sudah punah,” kata dia.

Selama beberapa dekade, para konservasionis telah menggunakan program pemulihan spesies untuk mencoba mengembalikan spesies yang terancam punah dari ambang kepunahan. Salah satu langkah yang dapat memberikan hasil yang baik adalah dengan menggunakan langkah-langkah kebijakan untuk mengurangi deforestasi dan perusakan habitat lainnya. 

“Hilangnya habitat merupakan alasan utama mengapa lebih dari 85% spesies yang terancam punah masuk ke dalam daftar. Spesies invasif dan penyakit dapat memperburuk kerusakan akibat hilangnya habitat atau bertindak sendiri,” kata Frederik Saltre, rekan peneliti bidang ekologi untuk ARC Centre of Excellence for Australian Biodiversity and Heritage, Flinders University.

Kepunahan tidak bisa dihindari. Antara tahun 2000 hingga 2022, para peneliti melihat 29 spesies pulih hingga bisa dikeluarkan dari daftar terancam punah. Namun, jalan menuju pemulihan masih panjang, rumit, dan jauh dari terjamin bagi sebagian besar spesies yang paling terdampak.

Setiap spesies memiliki iklim yang disukai dan dapat bertahan hidup. Namun, besarnya perubahan iklim yang diperkirakan terjadi di masa depan, akan menghasilkan krisis iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya di banyak wilayah. 

Komunitas baru yang paling terkenal muncul di garis lintang tinggi sebagian besar antara 17 ribu dan 12 ribu tahun yang lalu. Di sini, misalnya, pohon cemara dan pohon ash di Amerika Utara tumbuh berdampingan dan pohon pinus lebih jarang ditemukan dibandingkan saat ini. Sayangnya, kemunculan komunitas baru sering kali menyebabkan peningkatan kepunahan spesies.

Ekosistem baru terkadang dapat menampung lebih banyak spesies dan sebenarnya lebih tangguh karena keragaman sifat, perilaku, dan keanekaragaman genetik spesies. Namun, hal ini tidak dijamin.

“Mengelola ekosistem baru ini akan menjadi tantangan tersendiri. Kita harus menemukan cara-cara kreatif untuk menangani perubahan ini dengan mengadopsi praktik-praktik adat atau menerapkan solusi baru seperti penyelamatan genetik, reboisasi massal, dan migrasi berbantuan untuk mengurangi tingkat kepunahan,” kata Saltre.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement