Rabu 28 Feb 2024 15:14 WIB

Studi: Inovasi Energi Terbarukan Dinilai Untungkan Suatu Negara

Industri bahan bakar fosil berdampak negatif terhadap inovasi energi terbarukan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Inovasi energi terbarukan tidak hanya baik bagi iklim, namun juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi suatu negara.
Foto: www.freepik.com
Inovasi energi terbarukan tidak hanya baik bagi iklim, namun juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi suatu negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Toronto Metropolitan University menemukan bahwa inovasi energi terbarukan tidak hanya baik bagi iklim, namun juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi suatu negara. Melalui studi ini, peneliti berusaha menepis kekhawatiran beberapa pihak terkait dampak ekonomi dari transisi energi.

Deborah de Lange, peneliti utama studi, meneliti opsi-opsi restrukturisasi industri energi untuk transisi hijau ke energi terbarukan dari perspektif ekonomi. Hasilnya, de Lange menemukan bahwa inovasi energi terbarukan berkontribusi pada PDB yang lebih tinggi.

Baca Juga

“Berlawanan dengan beberapa kepercayaan yang dipegang secara umum, transisi yang bersih, dan telah berlangsung selama setidaknya satu dekade, baik untuk ekonomi - bahkan pada tahap awal perkembangannya,” kata de Lange seperti dilansir The Conversation, Rabu (28/2/2024).

Studi ini juga menunjukkan bahwa dukungan pemerintah dan industri terhadap industri bahan bakar fosil berdampak negatif terhadap inovasi energi terbarukan di suatu negara. Bahkan menurut de Lange, investasi bahan bakar fosil di tengah urgensi transisi energi, hanya akan memperpanjang eksistensi bahan bakar fosil dan menjauhkan persaingan energi terbarukan.

 

Menurut de Lange, hal ini menciptakan dikotomi yang salah antara mengurangi emisi dan meningkatkan PDB, padahal inovasi bersih dapat mencapai keduanya secara bersamaan.

“Penelitian saya menunjukkan bahwa inovasi bersih dapat membuat ekonomi lebih kuat dan mengurangi emisi. Jika kita ingin memperkuat kemajuan ganda tersebut, alih-alih menerima trade-off, maka kita harus berhenti mendukung industri bahan bakar fosil yang bertujuan untuk memperlambatnya,” tegas de Lange.

Secara ekonomi, lanjut dia, industri bahan bakar fosil berdampak negatif terhadap kesejahteraan konsumen dengan mempertahankan harga yang lebih tinggi dari yang seharusnya karena terbatasnya persaingan. Hal ini, pada gilirannya, meningkatkan PDB melalui peningkatan laba, karena mensubsidi industri yang sudah dominan menghasilkan polusi, mengurangi inovasi bersih, dan menunda kemajuan yang lebih bersih.

"Faktanya, PDB bukanlah ukuran standar hidup atau ukuran daya saing yang inovatif. Untuk mengatasi inflasi dan krisis biaya hidup, kita harus mendorong lebih banyak persaingan di seluruh industri. Ini adalah jenis kapitalisme yang lebih produktif yang membawa manfaat yang lebih luas bagi kita semua, termasuk lebih banyak inovasi, harga yang lebih rendah, dan produk yang lebih baik untuk pasar domestik dan ekspor,” jelas de Lange.

Ia menilai, subsidi pemerintah yang mendorong industri bahan bakar fosil menghambat kesejahteraan konsumen dan transisi ke energi bersih. Beberapa contohnya termasuk subsidi untuk mendanai lebih banyak teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dan penggunaan energi fosil dalam sistem penyimpanan hidrogen.

Alih-alih mendanai subsidi yang tidak bermanfaat ini, pemerintah seharusnya menerapkan pajak polusi dan juga mendukung inovasi energi terbarukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement