Sabtu 02 Mar 2024 21:20 WIB

2,5 Juta Orang AS Harus Mengungsi Akibat Bencana yang Terkait Cuaca di 2023

Lebih dari sepertiga korban bencana mengalami kekurangan makanan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Diperkirakan 2,5 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Amerika Serikat akibat bencana yang berhubungan dengan cuaca pada tahun 2023.
Foto: www.freepik.com
Diperkirakan 2,5 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Amerika Serikat akibat bencana yang berhubungan dengan cuaca pada tahun 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diperkirakan 2,5 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Amerika Serikat akibat bencana yang berhubungan dengan cuaca pada tahun 2023, demikian menurut data dari Biro Sensus AS. Angka-angka yang dirilis ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kehidupan masyarakat setelah bencana.

Menurut data tersebut, lebih dari sepertiga korban bencana mengalami kekurangan makanan pada bulan pertama setelah mengungsi. Lebih dari separuhnya melaporkan telah berinteraksi dengan seseorang yang tampaknya mencoba menipu mereka, dan lebih dari sepertiga telah mengungsi lebih dari sebulan.

Baca Juga

Tahun lalu, AS mengalami 28 bencana yang masing-masing menelan biaya setidaknya 1 miliar dolar AS. Namun hingga saat ini, jumlah warga yang mengungsi akibat bencana-bencana tersebut sulit untuk diperkirakan karena sistem tanggap darurat yang masih tambal sulam.

Karenanya para ahli mendesak agar pemerintah membenahi sistem tanggap darurat, guna mendata jumlah korban jiwa akibat bencana secara lebih akurat dan detail. Ini dinilai penting karena perubahan iklim telah meningkatkan cuaca ekstrem.

 

"Banyak kehidupan masyarakat yang terganggu oleh peristiwa-peristiwa ini, baik dalam skala kecil maupun besar. Ini memiliki biaya kumulatif yang sangat besar yang sulit untuk ditangkap. Setidaknya, hal ini memberikan kita gambaran tentang hal tersebut,” ujar Andrew Rumbach, seorang peneliti senior di Urban Institute, dilansir The New York Times, Sabtu (2/3/2024).

Data pengungsian tersebut dikumpulkan dalam Household Pulse Survey biro tersebut, yang bertujuan untuk mengukur bagaimana tantangan sosial dan ekonomi yang muncul mempengaruhi orang Amerika. Survei tersebut menambahkan pertanyaan tentang bencana pada Desember 2022.

Hasil pertama, yang dikeluarkan pada bulan Januari 2023, menunjukkan bahwa sekitar 3,3 juta orang telah mengungsi pada tahun sebelumnya. Berdasarkan tanggapan terbaru, yang dikumpulkan pada bulan Januari dan awal Februari, 2,5 juta orang mengatakan bahwa mereka telah mengungsi pada suatu waktu tahun lalu.

Perubahan dari tahun ke tahun sangat mungkin merupakan fluktuasi normal, kata para ahli, dan mungkin juga mencerminkan beberapa keterbatasan survei.

Berbagai versi survei dikirim secara berkala melalui pesan teks dan email ke lebih dari satu juta rumah tangga dalam satu waktu. Survei ini dilaporkan sendiri dan memakan waktu sekitar 20 menit. Jumlah orang yang merespons dapat bervariasi dari sekitar 40 ribu hingga 80 ribu orang. Biro Sensus kemudian memberikan bobot pada tanggapan-tanggapan tersebut agar dapat mewakili populasi yang lebih luas.

Biro Sensus mencatat bahwa ukuran sampel mungkin kecil dan kesalahan standarnya mungkin besar. Namun para ahli mengatakan, hasil tersebut masih memberikan gambaran angka pengungsian yang baik.

"Ini adalah angka yang tidak terlalu besar. Namun pada saat yang sama, ini adalah kumpulan data di dunia di mana kita tidak memiliki banyak kumpulan data yang baik,” kata Dr Rumbach, yang memiliki gelar PhD di bidang perencanaan kota dan regional.

Badai masih menjadi penyebab paling umum yang disebut sebagai penyebab pengungsian, diikuti oleh banjir dan kebakaran. Florida, Texas, California, dan Louisiana, semuanya memiliki ratusan ribu orang yang mengungsi dari rumah mereka.

Data dari Biro Sensus juga menunjukkan bahwa orang-orang yang menghadapi dampak bencana terburuk cenderung berasal dari komunitas yang memiliki kekuatan politik yang lebih kecil dan mengalami diskriminasi. Menurut para ahli, orang kulit hitam dan orang Latin cenderung lebih sering mengungsi, dan orang yang lebih miskin cenderung mengungsi lebih lama.

"Ada banyak lembaga federal yang sangat menyadari bahwa perubahan iklim sedang terjadi dan akan bermanifestasi sebagai bencana yang berhubungan dengan cuaca. Ada kebutuhan untuk memahami skala bencana tersebut,” kata Rumbach.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement