Sabtu 02 Mar 2024 12:55 WIB

Lahan Kopi Terancam Hilang Dampak dari Perubahan Iklim

Kenaikan suhu akibat perubahan iklim menyebabkan lahan kopi berkurang.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Petani menjemur biji kopi arabika Gayo.
Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
Petani menjemur biji kopi arabika Gayo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim akan mengurangi ketersediaan lahan untuk kopi sebesar 54 persen pada tahun 2100, bahkan jika suhu global berada pada target yang disepakati secara internasional. Hal ini merujuk pada sebuah laporan dari badan amal Christian Aid. 

Christian Aid mengeluarkan peringatan mengerikannya dalam sebuah laporan “Wake up and smell the coffee: The climate crisis and your coffee” yang menyerukan penghapusan utang yang “tidak adil” dan dukungan keuangan untuk membantu petani mendiversifikasi mata pencaharian mereka.

Baca Juga

“Kami telah menghitung bahwa kenaikan suhu dan kondisi yang tidak dapat diprediksi akan menyusutkan lahan yang cocok untuk menanam kopi di dunia sebesar 54,4 persen, bahkan jika suhu global dibatasi pada 1,5 hingga derajat Celcius di atas suhu pra-industri,” kata laporan badan amal tersebut.

Lebih dari separuh kopi yang diminum di Inggris berasal dari Brasil dan Vietnam, dua negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pada Mei 2023, Vietnam pernah mencatat rekor suhu tertinggi mencapai 44,1 derajat Celcius, begitupun negara-negara tetangga juga mengalami suhu ekstrem baru.

 

Meningkatnya suhu, serta curah hujan yang tidak menentu, munculnya berbagai penyakit, kekeringan dan tanah longsor yang disebabkan oleh perubahan iklim pada akhirnya mengancam eksisten industri kopi dan memiskinkan para produsen kopi.

“Sebagai produsen kopi, produksi kopi semakin sulit dilakukan. Dan ya, hal ini jelas terkait dengan perubahan iklim karena sebelumnya kita menanam kopi dan kopi tersebut diproduksi dengan sendirinya,” kata Yadira Lemus, seorang petani kopi asal Honduras, seperti dilansir Phys, Jumat (1/3/2024).

Yitna Tekaligne, country manager lembaga amal tersebut di Ethiopia, mengatakan bahwa warga Afrika merupakan 17 persen dari populasi dunia dan hanya menghasilkan 4 persen dari emisi gas rumah kaca yang menyebabkan krisis iklim. Namun mereka lah yang paling menderita akibat dampak perubahan iklim.

“Industri kopi kami merupakan ekspor terpenting Ethiopia dan menghasilkan lapangan kerja yang signifikan. Namun kini industri ini berada di bawah ancaman perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap produksi kopi sudah terlihat jelas, termasuk tingginya tingkat karat daun kopi,” kata Tekaligne.

Menurut dia, ada banyak hal yang bisa dilakukan Pemerintah Inggris, seperti menggunakan kekuasaannya untuk meminta kreditor swasta Barat agar membatalkan utang negara-negara termiskin di dunia. Kemudian memobilisasi pendanaan penting yang diperlukan petani kopi untuk mengatasi kerugian dan kerusakan yang disebabkan negara kita akibat perubahan iklim. 

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa cuaca ekstrem membuat harga kopi menjadi lebih mahal dan rasanya lebih buruk. “Jika tidak ada tindakan yang dilakukan, kita harus melupakan kopi dalam beberapa tahun mendatang,” sebuah kelompok kopi yang berbasis di Malawi memperingatkan.

Lantas bagaimana kopi terkena dampak perubahan iklim? Meningkatnya suhu, curah hujan yang tidak menentu, penyakit, kekeringan dan tanah longsor membuat lahan pertanian terancam. 

“Pengalaman kami, saat curah hujan rendah atau tidak ada sama sekali, pembungaan kopi menjadi sangat buruk,” kata Mackson Ng’ambi, CEO Mzuzu Coffee Cooperative di Malawi.

Dengan semakin seringnya cuaca ekstrem dan bencana alam, petani kopi dan petani lainnya menjadi semakin rentan. Hal ini terutama terjadi di negara-negara berkembang, di mana para petani seringkali mendapat kompensasi yang buruk atas hasil panen mereka dan dampak perubahan iklim lebih terasa parah.

Meningkatnya suhu kemungkinan besar juga akan mempengaruhi harga kopi di tahun-tahun mendatang. Mackson berpendapat bahwa kenaikan biaya seharusnya dibebankan kepada konsumen.

“Penetapan harga kopi global harus mempertimbangkan upaya para petani untuk mempertahankan lahan kopi mereka dan meningkatkan biaya produksi,” ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement