Selasa 19 Mar 2024 14:57 WIB

Prancis Gagal Alokasikan Biaya Adaptasi Perubahan Iklim

Anggaran pembaruan hutan Prancis selama 10 tahun dinilai masih belum mencukupi.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Prancis menerbitkan laporan bahwa negara tersebut tidak memiliki anggaran yang lengkap dan koheren untuk biaya adaptasi dan mitigasi iklim.
Foto: www.freepik.com
Prancis menerbitkan laporan bahwa negara tersebut tidak memiliki anggaran yang lengkap dan koheren untuk biaya adaptasi dan mitigasi iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah badan pengawas keuangan publik Prancis menerbitkan laporan bahwa negara tersebut tidak memiliki anggaran yang lengkap dan koheren untuk biaya adaptasi dan mitigasi iklim. Laporan dari Auditor General menunjukkan adanya kerentanan di berbagai bidang, termasuk perumahan yang tidak cocok untuk suhu yang lebih hangat dan kurangnya investasi dalam pembaruan hutan.

“Evaluasi biaya adaptasi saat ini dan di masa depan tidak merata, bisa dikatakan tidak ada. Kurangnya data yang memadai, dan terkadang tujuan yang jelas,” demikian pernyataan dari Auditor General Prancis seperti dilansir France24, Selasa (19/3/2024).

Baca Juga

Laporan tersebut menunjuk pada kerentanan di berbagai bidang misalnya perumahan, terutama dalam menghadapi gelombang panas yang semakin sering dan intensif. Sebagian besar rumah tidak sesuai dengan kondisi iklim Prancis di masa depan.

Menurut laporan baru ini, gelombang panas dalam beberapa tahun terakhir telah menewaskan ribuan orang. Laporan ini juga menekankan bahwa kelompok lansia dan tunawisma termasuk di antara kelompok yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem.

Dalam upaya mitigasi iklim, Prancis sangat bergantung pada hutannya, penyerap karbon yang kini terdegradasi akibat kekeringan, wabah penyakit, dan kebakaran hutan. Hutan Prancis menyerap 58 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2010, lalu menurun menjadi hanya 31 juta ton CO2 pada tahun 2021.

Secara nasional, laporan tersebut menyatakan bahwa dana sebesar 250 juta euro yang dianggarkan untuk pembaruan hutan Prancis selama 10 tahun masih belum mencukupi. Sebanyak 63 persen dari bauran energi adalah nuklir, dan laporan tersebut menunjukkan kurangnya menara pendingin di pembangkit listrik tenaga nuklir untuk menghindari pemanasan sungai.

Selain itu, pembangkit listrik tenaga nuklir lain yang masih dalam tahap rencana, juga berisiko terkena dampak kenaikan permukaan air laut. Ini menjadi sebuah fenomena yang telah menggerogoti 20 persen garis pantai Perancis dengan kerugian total 14 juta euro pada tahun 2021, 148 juta euro pada tahun 2023, dan bisa mencapai miliaran euro pada tahun 2050.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement