Kamis 21 Mar 2024 15:05 WIB

WMO Beri Peringatan Gelombang Panas, Pakar: Indonesia Harus Tanggapi Serius

Pemerintah diminta lebih serius antisipasi gelombang panas dampak perubahan iklim.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Pekerja kantoran menggunakan payung untuk melindungi sinar matahari dan mendinginkan diri dengan kipas genggam elektrik saat cuaca panas.
Foto: EPA-EFE/RUNGROJ YONGRIT
Pekerja kantoran menggunakan payung untuk melindungi sinar matahari dan mendinginkan diri dengan kipas genggam elektrik saat cuaca panas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Edvin Aldrian, mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk lebih serius dalam menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim. Seruan Prof Edvin ini menyusul peringatan darurat atau red alert dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) tentang perubahan iklim dan suhu global yang terus memanas.

“Peringatan dari WMO ini perlu menjadi perhatian khusus bagi negara iklim tropis seperti Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah betul-betul harus mulai membahasnya secara lebih serius,” kata Prof Edvin saat dihubungi Republika, dikutip Kamis (21/3/2024).

Baca Juga

Prof Edvin menjelaskan bahwa Indonesia yang beriklim tropis sangat rentan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Selain risiko kenaikan suhu, kawasan pesisir Indonesia juga menghadapi ancaman kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

“Kita juga sangat rentan akan cuaca ekstrem. Jika pemanasan global terus meningkat dan bahkan melebihi ambang batas 1,5 derajat Celcius maka bencana dan cuaca ekstrem itu akan juga akan terjadi,” kata dia.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), kata Prof Edvin, telah memprediksi bahwa bumi berpotensi mengalami kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius pada awal tahun 2030. Ini lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

“Sebelumnya IPCC prediksi kita akan melewati ambang 1,5 derajat Celcius pada 2040, maju 10 tahun lebih awal. Ini perlu jadi perhatian bersama, apalagi tahun lalu ditetapkan sebagai tahun terpanas,” kata Prof Edvin.

Sebelumnya, WMO telah mengeluarkan peringatan atau ‘red alert’ tentang pemanasan global, mengutip rekor peningkatan gas rumah kaca, suhu tanah dan air, serta mencairnya gletser dan es laut tahun lalu. PBB juga memperingatkan bahwa upaya-upaya dunia untuk membalikkan tren tersebut belum memadai.

WMO juga mengatakan bahwa tahun 2024 kemungkinan besar akan menjadi tahun terpanas lainnya. Dalam laporan “State of the Global Climate” yang dirilis Selasa, WMO menyuarakan kekhawatiran bahwa tujuan iklim yang dibanggakan semakin terancam.

"Belum pernah kita sedekat ini, walaupun hanya sementara, dengan batas bawah 1,5 derajat Celcius dari kesepakatan Paris tentang perubahan iklim. Karenanya WMO membunyikan tanda bahaya kepada dunia,” kata sekretaris jenderal WMO Celeste Saulo, seperti dilansir AP, Rabu (20/3/2024).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement