Kamis 18 Jun 2026 13:44 WIB

Mineral Kritis Jadi Modal Indonesia Pimpin Transisi Energi Global

Indonesia berada pada posisi yang relatif diuntungkan.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Diskusi publik mengenai mineral kritis.
Foto: Lintar Satria/Republika
Diskusi publik mengenai mineral kritis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lonjakan kebutuhan mineral kritis untuk kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan membuka peluang besar bagi Indonesia. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan sejumlah mineral strategis lainnya, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok energi bersih global.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Cecep M Yasin mengatakan,  perubahan geopolitik, restrukturisasi rantai pasok global, dan percepatan transisi energi telah mengubah peta persaingan ekonomi dunia.

Baca Juga

"Dalam situasi seperti ini, ketahanan energi tidak lagi hanya berbicara mengenai ketersediaan energi, tetapi juga kemampuan suatu negara mengendalikan sumber daya strategis yang menjadi fondasi teknologi masa depan," kata Cecep dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia yang digelar INDEF, Rabu (17/6/2026).

Menurut Cecep, sedikitnya ada empat faktor global yang memengaruhi ketahanan energi Indonesia saat ini, yakni konflik geopolitik, volatilitas harga komoditas, gangguan rantai pasok dan investasi akibat persaingan memperebutkan mineral kritis, serta tekanan perubahan iklim yang mempercepat transisi menuju energi rendah karbon.

Kondisi tersebut mendorong lonjakan permintaan berbagai mineral kritis yang menjadi bahan baku teknologi energi bersih. Litium, kobalt, nikel, grafit, tembaga, dan unsur tanah jarang dibutuhkan dalam produksi baterai, kendaraan listrik, pembangkit energi terbarukan, hingga jaringan listrik modern.

Cecep mengatakan, tren tersebut menjadikan mineral kritis sebagai komoditas strategis yang akan menentukan daya saing ekonomi negara-negara di masa depan.

"Pesan penting dari tren ini adalah bahwa mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global di masa depan," ujarnya.

Indonesia berada pada posisi yang relatif diuntungkan. Selain memiliki cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia juga mempunyai cadangan timah terbesar kedua dunia, bauksit terbesar keempat dunia, serta sumber daya tembaga, emas, perak, dan besi yang signifikan.

Namun, Cecep menilai keunggulan tersebut tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi energi bersih global. Tantangan berikutnya adalah mengubah kekayaan sumber daya menjadi nilai tambah industri, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan posisi dalam rantai pasok global.

"Kedaulatan tidak berhenti pada kepemilikan sumber daya, tetapi harus diwujudkan melalui penguasaan pemrosesan, manufaktur, pasar, dan juga industri pertambangan yang berkelanjutan," katanya.

Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai instrumen utama untuk meningkatkan nilai tambah mineral. Untuk komoditas nikel, misalnya, rantai industri didorong berkembang dari bijih menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel matte, prekursor, katoda, sel baterai, paket baterai, hingga kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

Menurut Cecep, semakin panjang rantai nilai yang dibangun di dalam negeri, semakin besar manfaat ekonomi yang dapat dinikmati Indonesia.

"Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di dalam negeri, semakin besar nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati oleh Indonesia dan masyarakat Indonesia secara nasional," ujarnya.

Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan industri baterai nasional, kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, hingga industri daur ulang baterai sebagai satu ekosistem yang terintegrasi.

Cecep menilai keberhasilan membangun ekosistem tersebut akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi global beberapa dekade mendatang.

Jika mampu mengintegrasikan sumber daya mineral, teknologi pengolahan, manufaktur, dan pasar domestik, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pusat produksi teknologi energi bersih dunia.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi