REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat menilai kolaborasi menjadi kunci untuk menerjemahkan komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi dampak nyata. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan dalam mendorong praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Jumhur mengatakan penerapan ESG kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan. ESG tidak sekadar memenuhi ekspektasi pasar, tetapi juga menjadi landasan bagi perusahaan yang tangguh, bertanggung jawab, dan berdaya saing.
"Melalui kolaborasi, komitmen ESG dapat menjadi dampak nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian nasional," kata Jumhur dalam opening remarks Road to ESG Forum MUC Sustainability Connect 1.0, dikutip Jumat (28/8/2026).
Menurut Menteri LH, pembahasan regulasi perpajakan dapat memperkuat aspek governance perusahaan. Pada saat yang sama, aksi penanaman mangrove menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.
"Pembahasan mengenai perkembangan regulasi perpajakan merupakan bagian dari upaya memperkuat aspek governance perusahaan, sementara penanaman mangrove menjadi bentuk nyata kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan penguatan ekosistem pesisir," kata Jumhur.
Karena itu, Menteri LH mengajak pelaku usaha memperkuat sinergi dengan pemerintah, komunitas, dan para pemangku kepentingan. Ia berharap kolaborasi tersebut membuat implementasi ESG tidak berhenti pada komitmen, tetapi menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian nasional.
Jumhur juga mengapresiasi inisiatif yang menggabungkan pembaruan regulasi dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Menurut dia, pendekatan tersebut menunjukkan keberlanjutan dapat diwujudkan melalui kolaborasi dan tindakan bersama.
MUC Consulting menggelar MUC Sustainability Connect 1.0: From Regulatory Compliance to Sustainable Impact di Jakarta Mangrove, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara, Kamis (27/8/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Road to ESG Forum tersebut menghubungkan pembaruan regulasi perpajakan dengan penguatan tata kelola perusahaan serta aksi nyata bagi lingkungan.
Mengusung tema From Regulatory Compliance to Sustainable Impact, kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada dunia usaha mengenai perkembangan regulasi perpajakan, khususnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44 Tahun 2026 mengenai kuasa Wajib Pajak (WP). Pembaruan regulasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari aspek governance, sedangkan penanaman mangrove menjadi bentuk kontribusi terhadap aspek environmental.
Dalam kegiatan tersebut, MUC Consulting juga mempertemukan berbagai stakeholder dan community partner. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari penguatan aspek social dalam penerapan ESG.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan sesi Tax Regulation Update bertema "Memperkuat Corporate Governance Melalui Legalitas Kuasa Pajak Sesuai PMK 44/2026". Sesi tersebut menghadirkan Fungsional Penyuluh Madya DJP Eddy Triono, Fungsional Penyuluh Muda DJP Ahmad Rif'an, dan Fungsional Penyuluh Pertama DJP Saptaka Adhi.
Eddy menjelaskan, Wajib Pajak dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan. Surat kuasa tersebut perlu memuat secara jelas ruang lingkup kewenangan yang diberikan.
Ahmad Rif'an menambahkan, kejelasan ruang lingkup kuasa perlu diikuti kompetensi yang memadai dari pihak yang ditunjuk. Hal tersebut diperlukan untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam pelaksanaan hak serta kewajiban perpajakan. "Tujuan adanya aturan (terkait kompetensi) adalah untuk menjaga integritas dan profesionalisme," jelas Rif'an.
Perspektif keberlanjutan kemudian disampaikan Direktur Eksekutif United Nations Global Compact Network Indonesia (IGCN) Andi P. Rahim. Ia menekankan sustainability tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan menanam pohon. "Sustainability ini bukan sekadar menanam pohon," kata Andi.
Menurut dia, prinsip sustainability perlu melekat dalam berbagai aktivitas perusahaan, termasuk pengelolaan keuangan dan pengambilan keputusan bisnis. Ia menilai sustainable finance turut berperan dalam menentukan arah perekonomian dan mendukung sistem ekonomi yang berkelanjutan.
Setelah memperoleh pembaruan regulasi dan perspektif ESG, peserta mengikuti collaborative ESG action berupa mangrove tour dan penanaman mangrove. Sebanyak 270 bibit mangrove ditanam bersama di kawasan Jakarta Mangrove. Kegiatan ini didukung United Nations Global Compact (UNGC) Network Indonesia dan Jakarta Mangrove sebagai strategic partner, serta Yayasan Teman Hebat Berkarya dan Bersih Bersih Lemari sebagai community partners. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi upaya MUC Consulting menghubungkan regulatory compliance dengan sustainable impact melalui kolaborasi dan aksi nyata.