Kamis 21 Sep 2023 14:28 WIB

ESDM: Gas Jadi Jembatan Menuju Transisi Penuh Energi Baru Terbarukan

Indonesia menargetkan target emisi nol bersih tahun 2060.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.
Foto: Dok ESDM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan, gas akan menjadi sumber energi utama sebelum Indonesia beralih ke energi baru terbarukan secara penuh untuk mencapai target emisi nol bersih 2060 mendatang. Sebab, dibandingkan dengan minyak bumi, emisi karbon yang dihasilkan dari gas akan jauh lebih rendah. Oleh karena itu, Arifin mengatakan masih dibutuhkan peran swsta dalam berinvestasi untuk pengeboran lapangan-lapangan migas yang selama ini belum tereksplorasi. 

“Gas akan digunakan untuk menjembatani 100 persen penggunaan EBT. Namun, industri hulu migas juga harus menerapkan strategi mengurangi emisi,” kata Arifin dalam International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023 di Nusa Dua, Bali, Kamis (21/9/2023). 

Baca Juga

Arifin tak menampik, tren dunia yang beralih ke penggunaan energi baru terbarukan menciptakan kekhawatiran akan masa depan industri hulu migas. Namun, Arifin menyampaikan, tren konsumsi total migas hingga tahun 2040 masih akan mengalami kenaikan dan mulai mendatar hingga 2050 mendatang. 

Karena itu, menurut Arifin, energi dari minyak dan gas bumi setidaknya masih akan terus digunakan sampai tahun 2050 meski akan terdapat penurunan. Selanjutnya, sesuai target, Indonesia menargetkan target emisi nol bersih tahun 2060 di mana penggunaan EBT menjadi mayoritas. 

Dengan waktu yang tersisa saat ini, pemerintah Indonesia mulai gencar mengkampanyekan teknologi Carbon Capture and Storage dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) sebagai langkah menurunkan emisi karbon migas. Teknologi itu memungkinkan industri untuk menangkap emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas bisnisnya dan menginjeksikan CO2 ke reservoir bekas sumur-sumut tua di bawah tanah. Lebih jauh, CO2 yang diinjeksikan itu digunakan kembali untuk menghasilkan gas sehingga lebih berkelanjutan. 

“Saat ini ada 15 proyek CCS/CCUS dan semuanya akan diselesaikan tahun 2030 dan ini butuh investasi sekitar 7 juta hingga 8 juta dolar AS,” ujarnya. 

Seiring dengan permintaan gas yang diyakini bakal makin tinggi, pemerintah tak berhenti untuk mempromosikan wilayah kerja migas yang selama ini belum tereksplorasi. Tercatat hingga kini ada sebanyak 68 cekungan dari 128 cekungan di Indonesia yang belum tersentuh. Ia meyakini cekungan tersebut menyimpan sumber daya migas yang besar dan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 

“Indonesia sangat berkomitmen untuk mempercepat pengembangan cadangan migas yang belum digunakan. Mulai tahun ini, kita akan promosikan wilayah-wilayah baru. Investor bisa berpartisipasi melalui proses tender atau negosiasi langsung dengan pemerintah,” kata Arifin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement