Rabu 18 Oct 2023 19:18 WIB

5 Negara di Asia Tenggara Ini Berencana Lakukan Transisi Energi, Salah Satunya Indonesia

Sebagian negara di Asia Tenggara sangat ingin bertransisi ke energi bersih.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Sebagian besar negara di Asia Tenggara telah mengambil langkah transisi ke energi terbarukan yang rendah karbon.
Foto: www.freepik.com
Sebagian besar negara di Asia Tenggara telah mengambil langkah transisi ke energi terbarukan yang rendah karbon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asia Tenggara merupakan rumah bagi beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Seiring dengan meningkatnya permintaan energi, kawasan ini beralih ke energi terbarukan untuk menjaga ketahanan energinya.

Permintaan energi di Asia Tenggara telah meningkat rata-rata 3 persen setiap tahun selama dua dekade terakhir - sebuah tren yang akan terus berlanjut hingga tahun 2030 di bawah pengaturan kebijakan saat ini, menurut International Energy Agency.

Baca Juga

Namun, bahan bakar fosil masih mendominasi bauran energi di kawasan ini, sekitar 83 persen pada tahun 2020 dibandingkan dengan pangsa energi terbarukan sebesar 14,2 persen pada periode yang sama. Menurut penelitian ASEAN Center for Energy, minyak, gas alam, dan batu bara akan menyumbang 88 persen dari total pasokan energi primer pada tahun 2050.

"Ketergantungan yang sangat besar pada bahan bakar fosil ini meningkatkan kerentanan kawasan ini terhadap guncangan harga energi dan kendala pasokan,” kata Manager of Energy Modeling and Policy Planning di ASEAN Centre for Energy Zulfikar Yurnaidi, seperti dilansir CNBC News, Rabu (18/10/2023).

Peristiwa-peristiwa global seperti pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina telah menaikkan harga dalam beberapa tahun terakhir, dengan harga minyak mentah mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir pada bulan Maret tahun lalu. Baru pekan lalu, harga minyak melonjak hampir 6 persen karena ketegangan di Timur Tengah melonjak.

Jika negara-negara Asia Tenggara tidak membuat penemuan yang signifikan atau menambah infrastruktur produksi yang ada, Yunaidi memprediksi, kawasan ini akan menjadi importir netto gas alam pada tahun 2025 dan batu bara pada tahun 2039. Hal ini tentu akan meningkatkan harga bahan bakar fosil dan semakin membebani konsumen.

“Untuk mencegah hal ini, kawasan ini harus mendiversifikasi sumber-sumber energinya demi pertumbuhan ekonomi dan keamanan," kata Yurnaidi.

Sebagian besar negara di Asia Tenggara telah mengambil langkah transisi ke energi terbarukan yang rendah karbon. Secara keseluruhan, kebijakan dan tren di kawasan ini menunjukkan bahwa negara-negara tersebut sangat ingin bertransisi ke energi bersih. 

Berikut transisi energi yang diupayakan negara-negara Asia Tenggara.

1. Malaysia

Malaysia meluncurkan Peta Jalan Transisi Energi Nasional pada Juli, yang akan meningkatkan kapasitas energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada impor gas alam. Peta jalan ini mengidentifikasi 10 proyek unggulan, termasuk rencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik sebesar satu gigawatt - terbesar di Asia Tenggara - yang dapat secara langsung mengkonversi sinar matahari menjadi energi.

Tenaga surya tetap menjadi segmen yang paling menggembirakan dalam lanskap energi terbarukan di Malaysia sejak tahun 2011, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan kapasitas terpasang sebesar 48 persen.

 

2. Vietnam

Pada bulan Mei, Vietnam mengumumkan Power Development Plan 8, sebuah komitmen untuk meningkatkan energi angin dan gas sekaligus mengurangi ketergantungannya pada batu bara. Sumber-sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari diproyeksikan akan menyumbang setidaknya 31 persen dari kebutuhan energi nasional pada tahun 2030.

Di bawah rencana tersebut, semua pembangkit listrik tenaga batu bara harus dikonversi menjadi bahan bakar alternatif atau berhenti beroperasi pada tahun 2050. 

 

3. Singapura

Green Plan 2023 Singapura...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement