Rabu 01 Nov 2023 17:14 WIB

Habitat Kelelawar Vampir Terimbas Perubahan Iklim, Risiko Penyebaran Rabies Meningkat

Dampak utama rabies adalah pada peternakan dan merugikan industrialisasi.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Friska Yolandha
Kelelawar vampir
Foto: National Science Foundation
Kelelawar vampir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian baru tentang kelelawar vampir meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Studi yang diterbitkan di jurnal Ecography itu mengungkap bahwa perubahan iklim telah mengusik habitat kelelawar vampir sehingga meningkatkan risiko penyebaran rabies.

"Perubahan iklim yang sedang berlangsung terkait dengan pergeseran distribusi kelelawar vampir, bersamaan dengan perubahan risiko penyebaran RABV (virus rabies) di tingkat kontinental dari satwa liar ke hewan peliharaan," ujar penulis studi, Rabu (1/11/2023).

Baca Juga

Riset memetakan 20 kemunculan kelelawar vampir di wilayah paling utara Bumi dan menciptakan model untuk memproyeksikan berapa lama waktu yang dibutuhkan kelelawar vampir untuk bermigrasi ke Amerika Serikat. Studi menyebut kelelawar vampir dapat memperluas jangkauan hingga ke benua Amerika dalam 27 tahun ke depan.

Variabel iklim yang paling mempengaruhi perubahan kisaran distribusi kelelawar vampir diketahui sebagai variabel yang terkait erat dengan perubahan iklim. Sementara, saat ini rabies merupakan penyakit langka pada manusia di AS, dengan satu hingga tiga kasus terjadi setiap tahunnya.

 

Dampak utama penyakit ini terutama berimbas pada peternakan, karena rabies merugikan industri peternakan Meksiko sebesar 46,7 juta dolar AS (sekitar Rp 744,9 miliar) per tahun, menurut laporan Departemen Pertanian AS (USDA) tahun 2020. Para pengusaha pertanian pun menganggap kelelawar vampir meresahkan.

"Spesies kelelawar ini menimbulkan banyak kekhawatiran di bidang pertanian karena kemampuannya menularkan penyakit, melukai ternak, dan menyebabkan infeksi. Rabies adalah masalah yang paling jelas karena kesejahteraan ternak dan potensi menulari manusia," ungkap Gary Joiner, juru bicara Texas Farm Bureau.

Gejala rabies pada manusia dan hewan seringkali serupa. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menjelaskan bahwa setelah terpapar, ada masa inkubasi, di mana virus berpindah ke otak. Masa inkubasinya bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, dan bisa berbeda tergantung lokasi paparan pada tubuh, jenis virus rabies, dan kondisi kekebalan tubuh.

Pada awalnya, gejalanya mungkin mirip dengan flu, termasuk lemas, tidak enak badan, demam, dan sakit kepala. Seseorang mungkin juga merasakan ketidaknyamanan, rasa tertusuk-tusuk atau sensasi gatal di lokasi gigitan.  CDC mengatakan gejala-gejala ini mungkin berlangsung selama berhari-hari.

Gejala pasien bisa berkembang....

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement