Kamis 30 Nov 2023 01:39 WIB

Mengenal Tropikalisasi, Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekosistem Laut

Studi saat ini tengah menyoroti dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Istilah tropikalisasi mencakup pergeseran spesies laut tropis ke arah kutub.
Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Istilah tropikalisasi mencakup pergeseran spesies laut tropis ke arah kutub.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru menyoroti dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut dalam fenomena global yang relatif baru, yang dikenal sebagai 'tropikalisasi'. Studi ini dirilis menjelang konferensi iklim PBB atau COP28, di mana para pembuat kebijakan global berkumpul dan menyusun langkah-langkah untuk mengatasi dampak pemanasan global.

Istilah tropikalisasi mencakup pergeseran spesies laut tropis ke arah kutub. Pergeseran atau perpindahan spesies itu disebabkan karena perairan tropis menjadi terlalu hangat atau mereka menghadapi peningkatan persaingan untuk habitat atau menangkis predator baru. Akibatnya, tropikalisasi mengubah lanskap ekologi lautan kita secara global. 

Baca Juga

Studi ini mengungkapkan bahwa perubahan ini dapat memiliki konsekuensi ekologi, evolusi, dan sosioekonomi yang signifikan. Karenanya para peneliti menyerukan agar semua pihak segera memahami konsekuensi tropikalisasi dan memprediksi perkembangannya.

Karolina Zarzyczny, peneliti utama studi dari University of Southampton, mengatakan bahwa penelitian ini dilakukan selama 20 tahun terakhir, dimana sebagian besar berfokus pada dampak ekologis.

 

“Mengingat betapa eratnya interaksi antara ekologi dan evolusi, strategi komprehensif yang melibatkan penelitian genetik dan evolusi dengan perubahan ekologi yang kita lihat sangat penting untuk lebih memahami pendorong dan konsekuensi dari tropikalisasi,” kata Zarzyczny seperti dilansir Natural History Museum, Rabu (29/11/2023).

Tinjauan ekstensif literatur yang diterbitkan selama 20 tahun terakhir ini merupakan langkah awal untuk menunjukkan kepada komunitas ilmiah tentang kesenjangan dalam pemahaman kita tentang masalah ini. 

“Meskipun kelimpahan, distribusi, dan keberadaan spesies di zona tropis, subtropis, dan beriklim sedang telah didokumentasikan berkali-kali, ada kekurangan mendasar dalam pemahaman tentang konsekuensi evolusi jangka panjang ketika spesies baru hidup bersama,” kata Zarzyczny.

Mendokumentasikan tropikalisasi adalah satu lompatan yang baik, namun Karolina dan para ilmuwan dari Natural History Museum dan University of Southampton tetap menyerukan agar perhatian yang lebih besar diberikan pada konsekuensi evolusioner dari pola-pola ini.

Mengingat betapa eratnya interaksi ekologi dan evolusi, interaksi spesies yang berubah dapat menyebabkan evolusi sifat atau perilaku baru. Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh Phil dan ditulis oleh Karolina, teritip atau barnacles (jenis hewan laut) telah mulai membungkuk untuk menangkis predator tropis baru di sepanjang semenanjung Baja California di Meksiko.

Konsekuensi evolusi lainnya mungkin melibatkan hilangnya keanekaragaman genetik yang unik seiring dengan berkurangnya spesies beriklim sedang. Pengurangan keanekaragaman genetik ini dapat menjadi masalah karena dapat mempengaruhi kemampuan spesies untuk beradaptasi terhadap tekanan di masa depan.

Fenomena ini bukan hanya masalah ekologi; tetapi juga membawa implikasi sosial ekonomi yang substansial, yang tidak semuanya negatif. Selama penelitiannya, Karolina mencatat beberapa kasus di mana rawa-rawa asin digantikan oleh ekosistem yang didominasi oleh bakau. Bakau memiliki kemampuan menangkap karbon yang lebih besar daripada rawa-rawa asin yang digantikannya - sebuah kabar baik untuk mengurangi kadar CO2 di atmosfer.

Selain itu, perluasan komunitas karang diharapkan akan berdampak positif pada ekonomi lokal karena peningkatan pariwisata berbasis penyelaman. Dalam studi ekstensif ini, para ilmuwan yang terlibat menyerukan tindakan segera dalam menangani wilayah yang kurang dipelajari, seperti daerah beriklim tropis di Afrika dan Amerika Selatan, untuk mendapatkan pemahaman holistik tentang pendorong dan konsekuensi kompleks yang ditimbulkan oleh tropikalisasi, serta bagaimana kita dapat mulai memperlambat prosesnya.

Phil B Fenberg, Associate Professor di University of Southampton, menambahkan bahwa salah satu cara untuk membantu mengurangi dampak negatif dari tropikalisasi adalah dengan menciptakan jaringan kawasan lindung laut di wilayah yang mengalami tropikalisasi.

“Di kawasan lindung ini, kita akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk menghilangkan dampak lain di luar dampak yang disebabkan oleh iklim, seperti tekanan penangkapan ikan dan degradasi habitat. Kita kemudian dapat memberikan kesempatan kepada spesies untuk menyesuaikan diri dengan tropikalisasi sampai kita dapat mengambil lebih banyak manfaat,” kata Phil.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement