Kamis 30 Nov 2023 20:10 WIB

Bagaimana Kondisi Dunia Apabila Seluruh Es Mencair karena Perubahan Iklim?

Perubahan iklim membuat lapisan es mencair cukup cepat di seluruh dunia.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Lapisan es yang mencair telah meningkat pesat selama dua dekade terakhir.
Foto: theatlantic.com
Lapisan es yang mencair telah meningkat pesat selama dua dekade terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meskipun masih banyak yang menyangkal terkait perubahan iklim, data ilmiah yang terus bertambah menunjukkan bahwa lapisan es di dunia mencair dengan sangat cepat. Menurut sebuah studi yang diterbitkan awal tahun 2021, lapisan es yang mencair telah meningkat pesat selama dua dekade terakhir, melonjak dari sekitar 760 miliar ton per tahun pada tahun 1990-an menjadi lebih dari 1,2 triliun ton per tahun pada tahun 2010-an.

Sementara itu, studi kedua yang didukung NASA tentang lapisan es Greenland menemukan bahwa setidaknya 74 gletser utama mengalami penipisan dan pelemahan yang parah. Namun, sejauh mana fenomena ini berdampak terhadap kenaikan permukaan air laut, masih diabaikan oleh komunitas ilmiah global.

Baca Juga

“Saya pikir ini adalah gambaran bahwa proyeksi saat ini masih konservatif. Padahal, ketika kita melihat lebih jauh, kita akan sadar bahwa umpan balik ini muncul lebih cepat dari yang diduga,” kata Eric Rignot, salah satu penulis studi dan peneliti gletser di Jet Propulsion Laboratory NASA dan University of California di Irvine, seperti dilansir Scoop, Kamis (30/11/2023).

Sementara itu, beberapa tahun lalu, National Geographic memvisualisasikan skenario kasus ekstrem di mana semua es di Bumi mencair. Bekerja sama dengan para ilmuwan dan universitas di seluruh dunia, mereka menghasilkan penggambaran yang akurat tentang seperti apa Bumi jika permukaan laut naik 65 meter.

 

Sebuah video mengerikan dari Business Insider, berdasarkan estimasi National Geographic, melukiskan gambaran kelam tentang kemungkinan masa depan planet kita. Dalam video tersebut, diperlihatkan bahwa banyak kota di Eropa termasuk Brussels dan Venesia akan terendam air jika skenario terburuk ini menjadi kenyataan.

Sementara itu, di Afrika dan Timur Tengah, Dakar, Accra, dan Jeddah akan mengalami nasib yang sama. Jutaan orang di kota-kota Asia seperti Mumbai, Beijing, dan Tokyo akan tercerabut dari rumah mereka akibat naiknya permukaan air laut dan dipaksa untuk pindah ke daratan. Di Amerika Selatan, Rio de Janeiro dan Buenos Aires akan tenggelam. Sedangkan di Amerika Serikat, dunia akan menyaksikan Houston, San Francisco, New York City, dan seluruh Negara Bagian Florida perlahan-lahan tenggelam.

Meski menakutkan, gambaran-gambaran ini berfungsi sebagai pengingat yang penting bahwa ketika kita terus membakar bahan bakar fosil untuk energi dan melepaskan karbon ke atmosfer, planet ini akan menjadi semakin panas. Sebuah studi yang diterbitkan di Science Advances oleh para peneliti di AS, Inggris, dan Jerman memperingatkan bahwa kita memiliki sumber daya bahan bakar fosil yang cukup untuk mencairkan lapisan es Antartika.

"Ini tidak akan terjadi dalam semalam, tetapi hal yang membingungkan adalah bahwa tindakan kita hari ini mengubah wajah Planet Bumi seperti yang kita ketahui dan akan terus berlanjut hingga puluhan ribu tahun ke depan. Jika kita ingin mencegah Antartika menjadi bebas es, kita harus menjaga batu bara, gas, dan minyak tetap berada di dalam tanah,” ujar penulis utama studi tersebut, Ricarda Winkelmann, dari Potsdam Institute for Climate Impact Research.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement