Kamis 08 Feb 2024 06:10 WIB

1.500 Bibit Mangrove Ditanam di Kawasan Taman Nasional Bunaken

Penanaman mangrove mendorong upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah.

Seorang warga mencari kepiting di kawasan mangrove (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Yudi
Seorang warga mencari kepiting di kawasan mangrove (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Sebanyak 1.500 bibit mangrove ditanam di kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara (Sulut), bertepatan dengan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia. "Hari Lahan Basah Sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 Februari merupakan ajakan untuk mengkampanyekan secara global pentingnya lahan basah," kata Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Nikolas Loli saat penanaman mangrove di Desa Tiwoho, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Rabu (7/2/2024).

Peringatan ini mengadopsi perjanjian internasional tentang pelestarian lahan basah (Konvensi Ramsar) yang ditandatangani pada tanggal 2 Februari 1971. Tujuan utamanya adalah mendorong upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana melalui aksi nasional dan kerja sama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan di seluruh dunia.

Baca Juga

"Tema besar peringatan lahan basah tahun 2024 adalah Wetlands and Human Wellbeing, yakni Lahan Basah dan Kesejahteraan Manusia. Hal ini sebagai pengakuan bahwa lahan basah merupakan bagian penting bagi manusia dan alam, termasuk manfaat dan jasa serta kontribusinya," ujar dia.

Nikolas mengatakan, Taman Nasional Bunaken sebagai perwakilan ekosistem tropis perairan laut memiliki posisi penting dalam pembangunan dengan memberikan multiplayer effect perekonomian di Provinsi Sulawesi Utara.

Terutama, kata dia, dalam bidang pariwisata sebagai bagian Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DSP) Likupang serta berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan jaringan cagar biosfer dunia yakni Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa yang ditetapkan oleh UNESCO di Paris tanggal 28 Oktober 2020.

Dia menjelaskan, sebagai kawasan konservasi berbasis perairan laut, Taman Nasional Bunaken seluas 73.973,12 hektare terdapat tujuh ekosistem utama yakni ekosistem terumbu karang seluas 6.064,6 hektare, ekosistem lamun 5.736,1 hektare, ekosistem mangrove 1.696,4 hektare, ekosistem hutan pantai 445,7 hektare, ekosistem padang rumput 81,27 hektare, ekosistem neritik dan oceania 57.969,07 hektare, dan ekosistem buatan 1.979,9 hektare.

Kondisi ekosistem ini sebagian besar merupakan lahan basah dengan diisi biota laut antara lain 390 spesies karang dari 63 genera dan 15 famili, 1.000 jenis ikan karang dari 175 famili, - jenis moluska dan crustacea, t 200 jenis mamalia laut.

Ekosistem mangrove sebagai bagian dari lahan basah merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh berbagai jenis pohon bakau tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai yang berlumpur, ekosistem ini merupakan tipe hutan tropika yang memiliki ciri khas tumbuh disepanjang pantai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut.

Taman Nasional Bunaken dengan hutan mangrove yang ekstensif memiliki peran dan fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem di Provinsi Sulawesi Utara. Fungsi tersebut tidak hanya sebagai pencegahan abrasi dan intrusi air laut serta tempat hidup berbagai biota perairan tetapi juga berpotensi dalam penyimpanan karbon dan pengendalian perubahan iklim secara global.

Mangrove yang berada di sepanjang pesisir Molas-Wori Taman Nasional Bunaken —memiliki kesejarahan panjang— dalam mempertahankan komunitasnya, dengan berada di dua administrasi Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara, hutan mangrove pesisir Molas-Wori memiliki luas 214.6 hektare. Mangrove yang ditanam tersebut merupakan hasil pengembangan Kelompok Karya Muda Desa Tiwoho Binaan Balai Taman Nasional Bunaken.

Sekitar 200 orang terdiri atas Pejabat Tinggi Madya KLHK, Pejabat Tinggi Pratama KLHK, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan se-Sulawesi Utara beserta staf, Forkopimda Sulut, Dinas Kehutanan Sulut, Pimpinan OPD Provinsi Sulut, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, jajaran Muspika Wori, tokoh agama, tokoh pemuda, dan masyarakat Desa Tiwoho ikut dalam gerakan penanaman mangrove tersebut.

Penanaman mangrove tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong bersama jajaran terkait.

sumber : ANTARA

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement