Selasa 24 Oct 2023 00:23 WIB

Bumi Memasuki Era Antroposen, Alam di Ambang Kehancuran Akibat Ulah Manusia

Manusia menjadi dominan terkuat yang membuat perubahan di semua ekosistem.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Ilmuwan menyebutkan bahwa bumi saat ini memasuki era antroposen, dimana manusia menjadi kekuatan dominan yang mendorong perubahan di semua ekosistem.
Foto: Wikimedia
Ilmuwan menyebutkan bahwa bumi saat ini memasuki era antroposen, dimana manusia menjadi kekuatan dominan yang mendorong perubahan di semua ekosistem.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Professor Agronomi dan Agroekologi dari Dalhousie University, Derek Lynch, mengungkapkan bahwa bumi telah memasuki era Antroposen, dengan manusia menjadi kekuatan dominan yang mendorong perubahan di semua ekosistem. Melalui aktivitas dan pengaruh yang luar biasa, tidak ada satupun ekosistem di bumi yang tak terdampak.

Entah itu melalui redistribusi spesies secara koloni, hilangnya habitat, perubahan iklim, ekstraksi berlebihan atau polusi oleh plastik, bahan kimia abadi, hingga nitrogen dan fosfor yang reaktif, telah mengubah semua ekosistem. Ketika beberapa kekuatan perubahan ini bergabung, ekosistem didorong melewati titik kritis kehancuran dengan lebih cepat.

Baca Juga

Selama pandemi Covid-19, insiden zoonosis berbalik, di mana manusia menjadi reservoir dan sumber infeksi bagi hewan peliharaan dan hewan liar. Fenomena ini kembali mengingatkan bagaimana nasib manusia dan semua makhluk hidup, sebetulnya saling terkait.

Sebagai akibat dari Antroposen, periode waktu ketika aktivitas manusia memberikan dampak besar pada bumi, keanekaragaman hayati global mengalami krisis, dengan kepunahan spesies yang terjadi 1.000 kali lipat dari tingkat sebelum adanya manusia.

“Dan mengatasi krisis ini adalah salah satu tantangan terbesar kita. Mungkin sudah waktunya untuk merenungkan ‘apakah alam telah mati?” kata Lynch, seperti dilansir Science Alert, Selasa (24/10/2023).

Proyek Half-Earth menyatakan bahwa hanya dengan melestarikan 50 persen habitat permukaan bumi, kita dapat melestarikan 85 persen spesies. Namun, menyisihkan lahan untuk alam seperti membangun taman dan cagar alam, sering kali berarti merampas tanah masyarakat adat, alih-alih menghormati dan memprioritaskan peran masyarakat adat dalam pelestarian biosfer.

Meskipun peningkatan luas kawasan lindung (menjadi 17 persen daratan dan 10 persen lautan pada tahun 2020) cukup menggembirakan, efektivitas pengelolaannya dalam melestarikan keanekaragaman hayati masih harus ditentukan.

Namun, penting untuk disadari bahwa keanekaragaman hayati juga dapat didukung di mana saja dan dalam segala hal yang kita lakukan. Lanskap perkotaan dapat mendukung keanekaragaman hayati yang lebih besar seperti pollinator, dan lanskap pertanian dapat berkontribusi tergantung pada intensitas pertanian.

Lynch kemudian menyoroti bagaimana hubungan yang terbentuk selama ini antara manusia dan alam. Selama ini, kata dia, manusia sering kali mendeskripsikan "our community" (komunitas) sebatas manusia saja, bukan termasuk alam.

“Padahal pohon, udara, juga termasuk bagian dari komunitas. Saya pernah mengikuti diskusi di Kanada, dimana seorang pemuda Mohawk mengatakan kalau sekelompok pohon birch adalah bagian dari komunitasnya. Memang begitu seharusnya,” kata Lynch.

Bagi penulis esai dan filsuf, Sylvia Wynter, representasi berlebihan bahwa manusia berbeda dengan alam merupakan konsep dasar yang terkait kolonialisme dan rasisme. Beberapa akademisi, yang menyadari dampak mendalam dari perubahan iklim, telah menyatakan bahwa tembok pemisah antara sejarah manusia dan sejarah alam telah runtuh.

Para ahli ekologi juga menyadari bahwa mengasingkan dunia alamiah tidak ada artinya, dan studi tentang proses-proses alamiah harus mencakup proses-proses yang dimodifikasi oleh manusia. Memang, kata Lynch, gagasan tentang manusia yang berbeda dari semua makhluk non-manusia dianggap oleh beberapa orang sebagai pendorong mendasar dari krisis yang terjadi di bumi sekarang.

“Sekarang kita dapat mempromosikan pemahaman yang lebih dalam tentang keanekaragaman hayati dan komunitas sebagai sejarah panjang bersama dan nasib masa depan manusia dan non-manusia,” kata Lynch.

Menurut Lynch, paradigma tersebut sebetulnya telah dianut oleh masyarakat adat, di mana pengelolaan lahan dilakukan melalui kemitraan dengan makhluk hidup lain di semua ekosistem. “Sudah saatnya kita membingkai ulang hubungan kita dalam mengatasi krisis lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia,” tegas Lynch.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement