Selasa 14 Nov 2023 19:09 WIB

Studi: Kebakaran Hutan Terbukti Pengaruhi Iklim Global

Kebakaran hutan secara individu dan global memengaruhi keseimbangan energi atmosfer.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Kebakaran hutan hebat di Australia pada 2019-2020 memiliki dampak terhadap iklim global.
Foto: Antara
Kebakaran hutan hebat di Australia pada 2019-2020 memiliki dampak terhadap iklim global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Efek radiatif asap dari kebakaran hutan ekstrem yang terjadi secara individu ternyata dapat menyebabkan dampak global yang mempengaruhi keseimbangan energi atmosfer dan iklim global. Ini adalah kesimpulan yang diambil oleh tim dari Leibniz Institute for Tropospheric Research (TROPOS) berdasarkan pada analisis kebakaran hutan ekstrem tahun 2019/20 di Australia dengan menggunakan simulasi model iklim aerosol global.

Simulasi efek asap menyebabkan peningkatan suhu beberapa derajat Celcius di lapisan udara atas dan melemahnya sirkulasi di stratosfer bawah. Sebagai hasil dari mekanisme penyesuaian lebih lanjut, terjadi penurunan kelembaban relatif sekitar 0,2 persen dan curah hujan dengan besaran yang sama. Oleh karena itu, dampak global dari kebakaran hutan di Australia terhadap cuaca dan iklim tidak dapat dikesampingkan.

Baca Juga

Kebakaran hutan Black Summer (Musim Panas Hitam) di Australia sekitar pergantian tahun 2019/2020 sangat luar biasa, dimana awan asap pyro-convective yang ekstrem (pyroCb) mengangkut asap dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya ke stratosfer yang lebih rendah. Antara tanggal 29 Desember 2019 dan 4 Januari 2020, beberapa kejadian seperti itu mengangkut antara 0,3 hingga 2 juta ton partikel asap ke ketinggian 12 hingga 14 kilometer.

Lapisan asap tersebut menyebar ke wilayah yang luas di belahan bumi selatan dan masih dapat dideteksi dua tahun kemudian di stratosfer melalui pengukuran lidar. Intensitas kebakaran di Australia sebanding dengan letusan gunung berapi besar, dan asap yang dipancarkan bahkan memengaruhi iklim Bumi. Pasalnya, partikel asap lebih memanaskan atmosfer secara signifikan karena jelaga yang dikandungnya, berbeda dengan aerosol gunung berapi, yang sebagian besar memantulkan sinar matahari.

Efek penyerapan ini diselidiki secara intensif dalam studi TROPOS sebelumnya dan diperkirakan tingkat pemanasan langsung di seluruh belahan bumi selatan hingga +0,5 watt per meter persegi. Bahkan efek pemanasan langsung ini, yang terlihat relatif sederhana, menjadi bahan perdebatan yang kontroversial di antara para ahli. Namun, hal ini menjadi jauh lebih kompleks ketika kita mempertimbangkan rantai mekanisme penyesuaian yang mungkin dialami atmosfer bumi kita sebagai akibat dari efek asap Australia.

Untuk menyelidiki mekanisme ini secara lebih rinci, penelitian TROPOS saat ini dibangun berdasarkan penelitian dari tahun sebelumnya dan menggunakan model iklim aerosol global ECHAM-HAM untuk menghitung secara komprehensif dampak dari partikel-partikel kebakaran hutan. Dengan bantuan simulasi komputer, dapat ditunjukkan bahwa penyerapan sinar matahari oleh asap Australia menyebabkan peningkatan yang relevan pada suhu troposfer atas dan stratosfer bawah sebesar beberapa derajat Celcius.

Yang menarik, hal ini tidak hanya terjadi secara lokal di belahan bumi selatan, tetapi anomali suhu positif juga berkembang melintasi daerah tropis menuju belahan bumi utara selama beberapa bulan. Setelah menganalisis data simulasi, kopling antar belahan bumi ini dapat dikaitkan dengan perubahan sirkulasi global, khususnya melemahnya cabang sirkulasi belahan bumi selatan yang mengalami upwelling.

"Dampak pasti dari kebakaran ekstrem terhadap cuaca dan iklim kita sulit untuk diperkirakan karena ketidakpastian yang ada. Namun, kami dapat menemukan bahwa kebakaran di Australia memiliki dampak global. Tidak hanya tutupan awan cirrus yang berkurang, tetapi seluruh siklus air bisa saja melemah akibat kebakaran di Australia-meskipun estimasi kuantitatif dari efek ini sangat tidak pasti," ujar Fabian Sent dari TROPOS seperti dilansir Phys, Selasa (14/11/2023).

Penelitian TROPOS telah memperkuat berbagai penelitian internasional sebelumnya. Pada tahun 2022 misalnya, para peneliti Inggris yang dipimpin oleh Prof Jim M Haywood dari University of Exeter memperingatkan tentang risiko memasukkan partikel penyerap secara artifisial ke dalam stratosfer. Pasalnya ini dapat memperkuat fase positif Osilasi Atlantik Utara musim dingin, yang terkait dengan banjir di Eropa utara dan kekeringan di Eropa selatan. Konsekuensi yang lebih luas dari asap di stratosfer dan potensi dampaknya terhadap troposfer masih belum jelas.

"Karena perubahan iklim yang cepat meningkatkan risiko dan intensitas kebakaran hutan, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan deskripsi ekstrem dan dampaknya dalam model iklim global. Untuk itu, kita perlu untuk lebih memahami kondisi atmosfer yang menyebabkan awan asap pyro-convective yang ekstrem dan karakteristik partikel asap yang dipancarkan agar dapat memperhitungkan interaksi yang mungkin terjadi dalam proyeksi iklim,” kata Prof Ina Tegen dari TROPOS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement