Sabtu 05 Apr 2025 07:40 WIB

Iran Usulkan BRICS Bentuk Dana Inovasi Hijau

Transisi hijau akan menciptakan peluang ekonomj.

Rep: Lintar Satria/ Red: Satria K Yudha
Seorang pria berjalan di depan logo KTT BRICS 2024 di gedung Kazan Expo di Kazan, Rusia, 21 Oktober 2024.
Foto: EPA
Seorang pria berjalan di depan logo KTT BRICS 2024 di gedung Kazan Expo di Kazan, Rusia, 21 Oktober 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kepala Departemen Lingkungan Hidup (DOE) Iran Shina Ansari mengusulkan negara-negara anggota BRICS membentuk dana inovasi hijau bersama untuk mendukung proyek-proyek adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang. Ia juga mengusulkan dana global untuk mengelola polusi plastik.

Dalam pertemuan Kelompok Kerja Lingkungan BRICS (EWG) yang berlangsung pada 1 dan 2 April di Brasil, Ansari mengatakan pertemuan ini memberikan kesempatan besar bagi negara-negara anggota BRICS untuk membuat keputusan yang adil, realistis, dan komprehensif dalam menghadapi tantangan lingkungan global.

Ansari mengatakan agenda PBB mengenai tiga isu utama, termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, mencerminkan realitas dunia yang memerlukan penyediaan sumber daya keuangan, transfer teknologi dan pembangunan kapasitas. Selain itu, dibutuhkan penguatan kerja sama internasional untuk pembangunan ekonomi dan sosial sambil menjaga lingkungan.

Namun, pembatasan sepihak dan tidak adil terhadap perdagangan internasional dengan dalih perlindungan lingkungan menyebabkan banyak masalah dan tantangan.

“Gerakan menuju transisi hijau adalah langkah penting dalam mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi karbon," kata Ansari seperti dikutip dari Teheran Times, Sabtu (5/4/2025).

Ansari mengatakan transisi hijau membutuhkan penggunaan sumber energi rendah karbon, peningkatan efisiensi energi, serta dukungan untuk perencanaan kota dan sistem transportasi yang berkelanjutan.

Ia mengatakan transisi hijau tidak hanya akan mengurangi dampak perubahan iklim, tapi menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia.

"Oleh karena itu, BRICS diharapkan memainkan peran penting dalam memberikan bantuan teknis, keuangan, dan konsultasi, termasuk pertukaran pengetahuan, pelaksanaan proyek bersama, pertukaran keahlian profesional, dan penguatan kerja sama,” katanya.

Selain merancang sistem untuk mendanai proyek-proyek iklim, Ansari juga mengusulkan pendirian pusat transfer teknologi bersih yang akan memfasilitasi akses yang adil terhadap teknologi pengurangan karbon terbaru.

Wakil Presiden Iran itu juga mengusulkan platform pemantauan lingkungan bersama yang memanfaatkan penginderaan jauh dan kecerdasan artifisial untuk mengelola krisis lintas batas, mengembangkan kerangka hukum internasional yang baru, dan memperkenalkan larangan sanksi terhadap proyek-proyek lingkungan.

Ansari mengatakan Iran telah mengambil langkah besar dalam memenuhi komitmennya terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Langkah-langkah itu seperti pengembangan energi terbarukan, perlindungan keanekaragaman hayati, peningkatan jumlah kawasan yang dilindungi, serta penanganan badai pasir dan debu, untuk melestarikan lingkungan.

“Namun, Iran termasuk salah satu negara yang paling rentan dan paling parah terkena dampak perubahan iklim, yang telah menyebabkan kekeringan berkepanjangan, badai pasir dan debu, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan aliran sungai yang parah, dan pengambilan sumber daya air tanah yang berlebihan,” tambah Ansari.

Ia juga mengumumkan kesiapan Iran untuk mendorong kerja sama lingkungan dengan BRICS dan menjadi tuan rumah pertemuan para ahli BRICS untuk mengembangkan rencana aksi bersama, berbagi pengetahuan tentang isu-isu kritis, seperti kelangkaan air, serta mengembangkan solusi keuangan yang berkelanjutan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement