REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah mengintegrasikan target FOLU Net Sink 2030 ke dalam Program Prioritas Nasional sebagai bagian dari komitmen menekan emisi dan menjaga hutan. Langkah ini meliputi pencegahan deforestasi, pengelolaan hutan lestari, hingga peningkatan rehabilitasi berbasis lanskap.
"Dalam rencana investasi Result Based Contribution (RBC) keempat yang baru saja kita launching, telah mengintegrasikan FOLU Net Sink 2030 ke dalam Program Prioritas Nasional," kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam peluncuran Rencana Investasi RBC-4 dan Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan periode ketiga di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
FOLU Net Sink 2030 merupakan kondisi ketika sektor kehutanan dan penggunaan lahan (forestry and other land use/FOLU) menyerap emisi lebih besar daripada yang dihasilkannya pada 2030. Raja Juli menjelaskan, program nasional ini memasukkan berbagai agenda, mulai dari pencegahan deforestasi dan degradasi hutan, peningkatan rehabilitasi hutan dan lahan untuk penyerapan karbon, hingga upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengelolaan ekosistem gambut melalui revegetasi dan peningkatan tata air dengan melibatkan masyarakat, serta memperkuat pendekatan hukum dan kapasitas kelembagaan. Dalam RBC-4, menurutnya, fokus diarahkan tidak hanya pada tata kelola hutan lestari yang lebih transparan, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat.
"Termasuk di dalamnya menjaga hutan dengan bekerja sama dengan masyarakat dan masyarakat adat dalam Perhutanan Sosial sehingga ini juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Sebelumnya, Indonesia telah menerima Result Based Contribution dari Pemerintah Norwegia untuk program iklim dan kehutanan. Pada tahap pertama atau RBC-1, dana yang disalurkan mencapai 56 juta dolar AS, sedangkan tahap kedua dan ketiga sebesar 100 juta dolar AS. Untuk RBC-4, pemerintah menerima tambahan 60 juta dolar AS, sehingga total kontribusi yang sudah diterima mencapai 216 juta dolar AS.
Pada implementasi RBC-1 hingga RBC-3, sejumlah capaian dihasilkan, di antaranya penanaman 4,6 juta bibit di area 11.215 hektare, pelibatan 35.180 masyarakat dalam 383 kelompok, penyerapan karbon sebesar 21 ribu ton CO2 ekuivalen, serta penyelesaian 40 konflik tenurial.