Ahad 30 Nov 2025 12:32 WIB

Musofa, Badak Jawa Hasil Translokasi, Wafat Akibat Penyakit Kronis Bawaan

Kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi penguatan konservasi Badak Jawa ke depan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Gita Amanda
Kementerian Kehutanan mengungkapkan penyebab kematian Musofa, Badak Jawa pertama yang berhasil ditranslokasi dalam Program Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. (ilustrasi)
Foto: Antara/Wahyu Putro A
Kementerian Kehutanan mengungkapkan penyebab kematian Musofa, Badak Jawa pertama yang berhasil ditranslokasi dalam Program Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kehutanan mengungkapkan penyebab kematian Musofa, Badak Jawa pertama yang berhasil ditranslokasi dalam Program Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, kematian Musofa disebabkan kondisi penyakit kronis yang tidak terdeteksi sebelumnya atau penyakit bawaan pada lambung, usus, dan otak.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menegaskan proses translokasi telah dilakukan sesuai standar ilmiah dan etika konservasi satwa liar. Ia menyampaikan duka mendalam sekaligus memberikan penjelasan menyeluruh kepada publik.

Baca Juga

“Pertama-tama, izinkan kami menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya salah satu individu Badak Jawa bernama Musofa, yang selama ini menjadi bagian penting dari upaya penguatan populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon,” kata Rohmat dalam konferensi pers, Jumat (28/11/2025).

Ia mencatat Musofa merupakan Badak Jawa pertama yang berhasil ditranslokasi sebagai bagian dari program konservasi nasional. Upaya translokasi ini merupakan langkah ilmiah dan strategis untuk menjaga keberlanjutan populasi Badak Jawa, salah satu satwa paling langka di dunia.

Lebih lanjut, Rohmat menekankan Badak Jawa merupakan satwa dengan status kritis serta menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian populasinya. Ia mencatat Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus merupakan salah satu satwa paling langka di dunia dengan status Critically Endangered (IUCN Red List).

Kementerian Kehutanan mencatat saat ini populasi Badak Jawa hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon dengan jumlah yang sangat terbatas. Berdasarkan kajian ilmiah terbaru, populasi ini menghadapi ancaman kepunahan dalam waktu kurang dari 50 tahun akibat rendahnya keragaman genetik, perkawinan sedarah (inbreeding), serta keterbatasan habitat.

“Untuk itu, translokasi Badak Jawa merupakan langkah strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, menyelamatkan plasma nutfah, memperbesar peluang reproduksi, dan memperluas sebaran populasi guna menjamin keberlanjutan spesies,” kata Rohmat.

Ia juga menjelaskan seluruh tahapan Operasi Merah Putih telah dilaksanakan secara ketat dengan keterlibatan lintas pihak, termasuk tenaga ahli dari dalam dan luar negeri, Mabes TNI, dan para dokter hewan.

Operasi ini, tambahnya, berpedoman pada Standard Operating Procedure (SOP), Ethical Assessment (analisis etik), tactical floor game atau simulasi, kesiapan logistik, transportasi, serta penanganan sehingga berhasil memindahkan Musofa tanpa cedera atau luka.

Rohmat mengatakan berdasarkan pemeriksaan tim patologi SKHB IPB University, Musofa tidak dapat diselamatkan karena penyakit kronis bawaan yang telah diderita jauh sebelum translokasi dilakukan. “Hasil nekropsi menunjukkan adanya kerusakan kronis pada hati, paru-paru, dan otak, serta infeksi parasit signifikan pada saluran pencernaannya,” ujar Rohmat.

“Kami memahami bahwa kabar ini menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran publik. Namun, kami pastikan bahwa seluruh proses penanganan Musofa telah dilakukan oleh tim medis terbaik, mengikuti standar internasional konservasi satwa liar. Seluruh tindakan telah diaudit dan diverifikasi oleh tenaga ahli independen,” lanjutnya.

Ia menegaskan peristiwa ini tetap menjadi tonggak pembelajaran penting bagi penguatan konservasi Badak Jawa ke depan. Proses translokasi ini menjadi pembelajaran ilmiah berharga bagi Kementerian Kehutanan, terutama pada penguatan sistem deteksi dini penyakit satwa liar, peningkatan standar kesehatan populasi badak, dan penguatan protokol keselamatan translokasi satwa di habitat alaminya.

Kementerian Kehutanan mengajak publik tetap mendukung upaya konservasi satwa dilindungi. Badak Jawa adalah simbol kekayaan hayati Indonesia, dan kementerian memastikan setiap langkah konservasi dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas.

Kronologi proses translokasi Musofa dimulai Senin (3/11/2025) pukul 20.15 WIB ketika badak tersebut berhasil masuk ke dalam pit trap 1 dan segera ditangani tim dokter. Selanjutnya, Musofa dimasukkan ke dalam kandang angkut dan menunggu situasi dan kondisi yang baik mengingat hujan besar, cuaca gelombang tinggi, disertai badai dan petir selama dua hari sejak Selasa (4/11/2025) pukul 09.00 WIB.

Pada Rabu (5/11/2025) pukul 14.20 WIB, setelah pengecekan ombak dan cuaca, Musofa dibawa ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) menggunakan KAPA Marinir TNI Angkatan Laut dengan penuh kehati-hatian hingga tiba di kandang rawat (paddock) JRSCA pukul 20.00 WIB. Musofa tiba dengan selamat tanpa mengalami luka akibat proses translokasi, bahkan sudah mampu makan serta buang air besar dan kecil secara normal. Tim dokter juga telah melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukan.

Namun, pada Jumat (7/11/2025) pukul 13.00 WIB, Musofa ditemukan terbaring lemah dan tim dokter melakukan upaya tindakan darurat untuk menyelamatkannya. Namun, pukul 16.16 WIB, Badak Jawa Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan.

Lintar Satria

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement