Kamis 23 Nov 2023 07:43 WIB

Studi: Perubahan Iklim Pengaruhi Cara Kerja dan Fungsi Otak Manusia

Cuaca ekstrem memengaruhi kesehatan otak secara keseluruhan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Cuaca ekstrem akibat dari perubahan iklim berpengaruh terhadap kesehatan otak manusia.
Foto: www.freepik.com.
Cuaca ekstrem akibat dari perubahan iklim berpengaruh terhadap kesehatan otak manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi internasional telah membuktikan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi cara kerja dan fungsi otak di masa depan. Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Vienna dan melibatkan ahli saraf untuk lebih memahami serta menangani masalah ini.

Sejak 1940-an telah diketahui bahwa faktor-faktor lingkungan dapat mengubah perkembangan dan plastisitas otak secara mendalam, berdasarkan studi pada tikus. Efek ini juga terlihat pada manusia, dimana seseorang yang tumbuh di tengah kemiskinan cenderung mengalami gangguan pada sistem otak, kurangnya stimulasi kognitif, nutrisi buruk, serta peningkatan stres pada anak.

Baca Juga

Kini, penulis utama studi, Kimberly C Doell, melakukan analisis mendalam untuk mengeksplorasi dampak pada otak manusia yang terpapar peristiwa cuaca yang lebih ekstrem, seperti gelombang panas, kekeringan, dan angin topan, serta kebakaran hutan dan banjir parah. Doell percaya bahwa kejadian-kejadian tersebut dapat mengubah struktur, fungsi, dan kesehatan otak secara keseluruhan.

“Mengingat semakin seringnya peristiwa cuaca ekstrem yang kita alami, di samping faktor-faktor seperti polusi udara, cara kita mengakses alam, serta stres dan kecemasan yang dialami orang-orang terkait perubahan iklim, sangat penting bagi kita untuk memahami dampaknya terhadap otak kita. Hanya dengan begitu kita dapat mulai mencari cara untuk mengurangi perubahan ini,” kata Doell seperti dilansir Hindustan Times, Kamis (23/11/2023)

 

Makalah ini juga mengeksplorasi peran yang dapat dimainkan oleh ilmu saraf dalam memengaruhi cara kita berpikir tentang perubahan iklim, penilaian, dan cara seseorang merespons. Doell juga menyerukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi bagaimana hal ini dapat menjelaskan perubahan kesejahteraan dan perilaku.

Mathew White dari Universities Exeter and Vienna, salah satu penulis dalam penelitian, menambahkan bahwa memahami aktivitas saraf yang relevan dengan motivasi, emosi, dan cakrawala temporal dapat membantu memprediksi perilaku, dan meningkatkan pemahaman tentang apa yang membuat seseorang tidak bertindak pro-iklim.

“Fungsi otak dan perubahan iklim merupakan hal yang sangat kompleks. Kita harus mulai melihat keduanya sebagai sesuatu yang saling terkait, dan mengambil tindakan untuk melindungi otak kita dari realitas perubahan iklim di masa depan, dan mulai menggunakan otak kita dengan lebih baik untuk mengatasi apa yang telah terjadi dan mencegah skenario yang lebih buruk,” jelas White.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement