Kamis 23 Nov 2023 12:09 WIB

5 Penyebab Konsumsi Alkohol dan Narkoba Bisa Meningkat Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim sangat mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Menghadapi perubahan iklim cukup melelahkan, dan bisa menyebabkan tingkat konsumsi alkohol serta narkoba meningkat.
Foto: www.freepik.com.
Menghadapi perubahan iklim cukup melelahkan, dan bisa menyebabkan tingkat konsumsi alkohol serta narkoba meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim dapat memengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Selain berdampak pada permasalahan cuaca dan lingkungan, perubahan iklim juga sangat berpengaruh pada stabilitas kesehatan mental manusia.

Menghadapi perubahan iklim bisa sangat melelahkan. Terkadang hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang adalah mencari perlindungan dalam alkohol, tembakau, obat-obatan terlarang, atau zat psikoaktif lainnya. 

Baca Juga

Dilansir The Conversation, Kamis (23/11/2023), berikut alasan mengapa perubahan iklim bisa meningkatkan konsumsi alkohol dan obat terlarang.

1. Kesehatan mental terguncang

 

Peningkatan jumlah kejadian ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim, pada gilirannya, meningkatkan risiko kesehatan mental. Associate Professor Psychosocial Difficulties di University of Oslo, Francis Vergunst, mengatakan bahwa terguncangnya kesehatan mental bisa menjadi alasan utama mengapa perubahan iklim dapat memicu konsumsi narkoba dan alkohol. 

Sebagai contoh, panas yang ekstrem terkait dengan peningkatan tekanan di seluruh populasi. Dalam cuaca panas yang ekstrem, lebih banyak orang pergi ke unit gawat darurat untuk masalah kejiwaan, termasuk untuk mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang secara umum. Hal ini bahkan berlaku untuk satu hari yang sangat panas.

Gangguan stres pascatrauma, depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya adalah hal yang umum terjadi pada saat kejadian cuaca ekstrem dan dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelahnya, terutama jika orang terpapar pada banyak kejadian. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan penggunaan zat-zat terlarang sebagai cara untuk mengatasinya.

 

2. Meningkatnya kecemasan

Kecemasan dan kekhawatiran tidak sama dengan memenuhi kriteria gangguan mental. Namun, survei menunjukkan bahwa perubahan iklim menimbulkan respons emosional yang kompleks, terutama pada anak-anak.

Selain perasaan khawatir, ada juga rasa cemas, takut, rasa bersalah, marah, sedih, dan tidak berdaya. Beberapa kondisi emosional, seperti kesedihan, terkait dengan penggunaan tembakau dalam jangka panjang dan juga membuat penggunaan narkoba menjadi lebih mungkin kambuh.

 

3. Cedera fisik 

Cedera fisik yang disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem, seperti menghirup asap, luka bakar, atau luka lainnya akibat bencana, meningkatkan risiko penggunaan zat berbahaya. Pasalnya, cedera fisik dapat meningkatkan risiko tekanan psikologis. Jika cedera menyebabkan penyakit atau kecacatan jangka panjang, pasien bisa putus asa dan depresi, kemudian mereka berisiko 'melarikan diri' pada alkohol atau obat-obatan lainnya.

Penggunaan narkoba itu sendiri juga dapat menyebabkan kerusakan fisiologis jangka panjang, kecacatan, atau masalah kesehatan kronis lainnya. Hal-hal tersebut terkait dengan tingkat penggunaan zat berbahaya yang lebih tinggi.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement