Selasa 12 Dec 2023 10:05 WIB

Setali Bawa Kembali Sustainable Fashion di Indonesia yang Lama Terlupakan

Indonesia merupakan negara yang sejak lama sudah menerapkan fesyen berkelanjutan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Co Founder Setali Indonesia Intan Anggita Pratiwi
Foto: Republika/Thoudy Badai
Co Founder Setali Indonesia Intan Anggita Pratiwi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri fesyen bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon global tahunan, lebih besar daripada gabungan seluruh penerbangan internasional dan pelayaran laut, demikian menurut Program Lingkungan PBB (UNEP). Dengan laju seperti ini, emisi gas rumah kaca industri fesyen diprediksi akan melonjak lebih dari 50 persen pada tahun 2030.

Atas dasar itulah, praktik slow fashion atau sustainable fashion dinilai sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga Bumi tetap lestari. Dan faktanya, praktik slow fashion atau sustainable fashion ternyata telah lama eksis di Indonesia.

Baca Juga

Co-founder Setali Indonesia, Intan Anggita Pratiwie, mengatakan bahwa sustainable fashion sebetulnya sudah mendarah daging di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, praktik slow fashion itu kerap kali terlupakan.

“Jadi emang maknanya aku bikin Setali juga untuk mengenali dan kembali ke akar. Karena kalau kita ngomongin slow fashion, sustainable fashion, itu masyarakat Indonesia sejak lama sudah melakukan praktik itu. Hanya saja memang mereka enggak pernah membranding itu sebagai slow fashion,” kata Intan saat diwawancarai Republika di kantor Setali, Jakarta Selatan, Selasa (11/12/2023).

 

Intan mengungkapkan, beberapa praktik sustainable fashion seperti penggunaan pewarna alami, bahkan hingga saat ini masih digunakan oleh para pengrajin tenun di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pewarna alami bersifat biodegradable, tidak beracun dan non-alergi, sehingga umumnya lebih baik bagi lingkungan dan untuk digunakan sekitar manusia.

“Tapi yang bikin menjadi berantakan adalah ada orang-orang, dulu ya pas zaman kolonialisme, mereka masukin pewarna sintetis agar estetikanya lebih dapet katanya. Padahal warna-warna bumi itu lebih ramah lingkungan, karena tidak merusak tanah dan lingkungan itu sendiri, dan tidak menjadi polusi,” tegas Intan.

Karenanya, praktik sustainable fashion itu tidak mustahil diterapkan pada era modern. Hanya saja, menurut Intan, itu akan kembali lagi pada mindset dan mentalitas masing-masing individu dan perusahaan. Jika kesadarannya sudah mencakup purpose, people, planet, profit, mereka akan memilih untuk mencari bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

“Tapi kalau mereka cuma mikirin profit aja, pasti mereka akan kembali ke pewarna buatan karena dianggap lebih murah, lebih cepat, dan lebih mudah, meskipun ya dampaknya itu sangat buruk pada alam dan lingkungan,” kata Intan.

Sejak tahun 2018, bersama Setali Indonesia, Intan juga terus melakukan edukasi dan kampanye tentang sustainable fashion, termasuk melakukan workshop recycling secara rutin. Melalui workshop itu, Intan berbagi ilmu terkait bagaimana cara merombak dan menata ulang baju bekas agar kembali layak pakai.

“Kami di Setali selalu mengampanyekan bagaimana sustainable fashion itu suppose to be inklusif bukan eksklusif. Jadi kami juga merangkul mereka yang masih di tahap pencarian karakter, untuk bisa terbuka dengan praktik fesyen berkelanjutan,” kata Intan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement