Sabtu 27 Jan 2024 06:43 WIB

Studi: 1 Miliar Penduduk di Kawasan Tropis Rentan Terpapar Suhu Panas Ekstrem

Beberapa bagian dunia menuju kondisi panas ektrem yang di luar batas toleransi.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Perubahan iklim mendorong panas yang lembab mendekati batas maksimal kemampuan manusia untuk bertahan hidup.
Foto: www.freepik.com
Perubahan iklim mendorong panas yang lembab mendekati batas maksimal kemampuan manusia untuk bertahan hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Kelembaban juga meningkat. Panas dan kelembaban merupakan kombinasi yang berbahaya, mengancam semua aspek kehidupan dan mata pencaharian kita.

Perubahan iklim mendorong panas yang lembab mendekati batas maksimal kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Beberapa bagian dunia sedang menuju kondisi yang berada di luar batas toleransi manusia.

Baca Juga

Namun, penelitian terbaru yang dipimpin Emma Ramsay, seorang peneliti pascadoktoral di Nanyang Technology University, menunjukkan bahwa cakupan stasiun meteorologi yang buruk di seluruh wilayah tropis menyebabkan tekanan panas di perkotaan kerap diremehkan. Hal ini berarti penilaian perubahan iklim global mungkin mengabaikan dampak lokal pada manusia.

Terkonsentrasi di seluruh wilayah tropis Asia dan Afrika, permukiman informal, yang umumnya dikenal sebagai daerah kumuh, berada di garis depan paparan iklim.

“Pemantauan iklim yang tidak memadai membuat masyarakat di permukiman informal sangat rentan terhadap peningkatan suhu panas yang lembab. Dengan sedikitnya pilihan untuk beradaptasi, jutaan orang dipaksa untuk mencari perlindungan dari daerah tropis yang paling panas,” kata Ramsay seperti dikutip Phys, Sabtu (27/1/2024).

Ramsay menjelaskan bahwa urbanisasi yang cepat dan melebihi rencana pembangunan formal mendorong pertumbuhan permukiman informal. Penghuninya biasanya kekurangan infrastruktur dan layanan, seperti listrik dan pasokan air, yang dianggap remeh oleh banyak penduduk kota.

Lebih dari 1 miliar orang tinggal di permukiman informal. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi 3 miliar dalam 30 tahun ke depan. Di negara-negara seperti Kenya atau Bangladesh, hampir setengah dari populasi perkotaan tinggal di permukiman informal.

Sebagian besar permukiman informal terletak di daerah tropis. Di sini, cuaca panas dan lembab sepanjang tahun, namun penghuninya hanya memiliki sedikit pilihan untuk beradaptasi dengan tekanan panas.

Selain itu, sebagian besar rumah tangga di pemukiman ini berpenghasilan rendah. Banyak penduduk yang harus bekerja di luar ruangan untuk mencari nafkah, yang membuat mereka terpapar panas dan lembab.

“Karena permukiman informal berada di luar sistem dan peraturan resmi, kita sering kekurangan data tentang ancaman yang mereka hadapi,” kata Ramsay.

Lebih lanjut, Ramsay mengatakan bahwa sebagian besar penduduk dunia tinggal lebih dari 25 kilometer dari stasiun pemantauan cuaca. Hal ini berarti stasiun cuaca jarang menangkap seluruh rentang suhu dan kelembaban di kota, yang biasanya lebih panas daripada daerah di luar kota. Kesenjangan dalam pemantauan ini paling besar terjadi di daerah tropis di mana sebagian besar permukiman informal berada.

Penelitian yang dilakukan Ramsay dan tim mengumpulkan data pemantauan iklim lokal dari permukiman informal di tujuh negara tropis. Mereka kemudian membandingkan data ini dengan pengukuran suhu dan kelembaban di stasiun cuaca terdekat.

Hasilnya, ditemukan bahwa stasiun cuaca sangat meremehkan tekanan panas yang dialami masyarakat di rumah mereka dan komunitas lokal. Hal ini berarti penilaian dan proyeksi iklim global juga kemungkinan besar meremehkan dampak skala lokal.

“Meskipun data ini berasal dari sejumlah kecil penelitian, data ini menyoroti rintangan utama untuk adaptasi iklim. Tanpa data tekanan panas yang akurat, bagaimana kita dapat memastikan bahwa masyarakat yang paling rentan tidak tertinggal,” tegas Ramsay.

Ia kemudian memaparkan bagaimana selama gelombang panas di Australia, masyarakat biasanya diminta untuk tetap berada di dalam rumah dan minum banyak air. Bagi penghuni permukiman informal, saran ini sebenarnya dapat meningkatkan risiko dampak kesehatan.

Panas dapat menjadi lebih buruk di dalam ruangan di perumahan informal dengan ventilasi dan insulasi yang buruk. Sangat sedikit rumah tangga yang memiliki pendingin ruangan atau AC. Penduduk mungkin tidak memiliki akses ke air minum yang aman, sehingga menambah risiko kesehatan akibat tekanan panas.

Terlebih lagi, menurut Ramsay, saran dan peringatan tidak mungkin sampai ke pemukiman informal. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) tahun 2023 menemukan bahwa hanya separuh dari negara-negara di dunia yang memiliki sistem peringatan dini

Sistem ini diaktifkan jika perkiraan panas berada di atas tingkat pemicu tertentu. Saran dan peringatan kesehatan kepada masyarakat dapat didukung oleh langkah-langkah kesehatan masyarakat tambahan. Pusat iklim regional saat ini mengeluarkan peringatan berskala luas, tetapi prakiraan dan tanggapan perlu beroperasi pada skala yang lebih kecil agar efektif.

“Dan seperti yang telah kami tunjukkan, prakiraan didasarkan pada data stasiun cuaca yang meremehkan panas di permukiman informal. Hal ini berarti sistem peringatan dini bisa saja tidak diaktifkan meskipun penduduk di pemukiman ini akan mengalami tekanan panas yang berbahaya,” jelas Ramsay.

Sebagai salah satu upaya untuk melindungi masyarakat di komunitas informal, Ramsay mendorong dukungan internasional untuk lembaga meteorologi di negara-negara berkembang. Selain itu, ketidaksetaraan sumber daya dan kapasitas adaptasi juga harus diatasi. Berinvestasi pada solusi-solusi ini harus menjadi prioritas dalam upaya adaptasi.

“Alternatif lain untuk beradaptasi adalah pindah. Migrasi terkait iklim sudah terjadi karena kenaikan permukaan laut dan panas, termasuk di Australia. karena orang-orang tidak akan meninggalkan kehidupan mereka tanpa alasan yang kuat,” kata Ramsay.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement