Rabu 10 Jan 2024 15:22 WIB

Bumi Pecahkan Rekor Terpanas di 2023, Bagaimana di 2024?

Imuwan sebut penyebab terbesar pemanasan global berasal dari efek gas rumah kaca.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Para ilmuwan telah berulang kali mengatakan bahwa Bumi membutuhkan rata-rata 1,5 derajat pemanasan selama dua atau tiga dekade untuk dapat dikatakan melanggar ambang batas secara teknis.
Foto: www.freepik.com
Para ilmuwan telah berulang kali mengatakan bahwa Bumi membutuhkan rata-rata 1,5 derajat pemanasan selama dua atau tiga dekade untuk dapat dikatakan melanggar ambang batas secara teknis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 2023 bumi memecahkan rekor panas tahunan global, mendekati ambang batas pemanasan yang telah disepakati dunia. Merujuk data terbaru dari observatorium iklim Eropa, Copernicus, suhu rata-rata tahun lalu mencapai 1,48 derajat Celcius di atas masa pra-industri. Angka tersebut nyaris menyentuh 1,5 derajat Celcius - batas pemanasan yang diharapkan dunia untuk tetap berada di dalam kesepakatan iklim Paris 2015 untuk menghindari efek pemanasan yang paling parah. 

Copernicus juga memprediksi, pada Januari 2024 akan menjadi sangat panas sehingga untuk pertama kalinya periode 12 bulan akan melebihi ambang batas 1,5 derajat Celcius. Para ilmuwan telah berulang kali mengatakan bahwa Bumi membutuhkan rata-rata 1,5 derajat pemanasan selama dua atau tiga dekade untuk dapat dikatakan melanggar ambang batas secara teknis.

Baca Juga

“Target 1,5 derajat harus dipertahankan karena nyawa manusia terancam. Karena itu, pilihan-pilihan harus dibuat, dan pilihan itu tidak hanya berdampak pada Anda dan saya, tetapi berdampak pada anak-anak dan cucu-cucu kita,” ujar Wakil Direktur Copernicus, Samantha Burgess seperti dilansir AP, Rabu (10/1/2024).

Rekor suhu panas membuat kehidupan menjadi sengsara dan terkadang mematikan di Eropa, Amerika Utara, Cina, dan banyak tempat lainnya tahun lalu. Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa iklim yang memanas juga menjadi penyebab terjadinya peristiwa cuaca yang lebih ekstrem, seperti kekeringan panjang yang menghancurkan Tanduk Afrika, hujan lebat yang menghancurkan bendungan dan menewaskan ribuan orang di Libya, serta kebakaran hutan di Kanada yang mengotori udara dari Amerika Utara ke Eropa.

 

Untuk pertama kalinya, negara-negara yang bertemu dalam KTT Iklim PBB (COP) di bulan Desember sepakat bahwa dunia perlu beralih dari bahan bakar fosil yang menyebabkan perubahan iklim. Meskipun mereka tidak menetapkan persyaratan konkret untuk merealisasikannya.

Copernicus menghitung bahwa suhu rata-rata global pada tahun 2023 adalah sekitar seperenam derajat Celcius lebih hangat dari rekor lama yang ditetapkan pada tahun 2016. Meskipun jumlah tersebut tampak kecil dalam pencatatan rekor global, kata Burgess, namun ini merupakan margin yang sangat besar untuk rekor baru. Suhu rata-rata Bumi pada tahun 2023 adalah 14,98 derajat Celcius, menurut perhitungan Copernicus.

"Itu memecahkan rekor selama tujuh bulan. Kita mengalami bulan Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember yang paling panas. Itu bukan hanya satu musim atau satu bulan yang luar biasa. Itu luar biasa selama lebih dari setengah tahun,” jelas Burgess.

Menurut Burgess, ada beberapa faktor yang membuat tahun 2023 menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah. Tetapi sejauh ini faktor terbesarnya adalah jumlah gas rumah kaca di atmosfer yang terus meningkat yang memerangkap panas. Gas-gas tersebut berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.

Faktor-faktor lain termasuk El Nino dan osilasi alami lainnya di Kutub Utara, samudra selatan dan India. Selain itu, peningkatan aktivitas matahari dan letusan gunung berapi bawah laut pada tahun 2022 juga berpengaruh karena mengirimkan uap air ke atmosfer.

Malte Meinshausen, seorang ilmuwan iklim dari University of Melbourne, mengatakan bahwa sekitar 1,3 derajat Celcius dari pemanasan tersebut berasal dari gas rumah kaca, dengan 0,1 derajat Celcius dari El Nino dan sisanya adalah penyebab-penyebab yang lebih kecil.

“Dengan adanya El Nino dan rekor tingkat panas lautan, sangat mungkin tahun 2024 akan menjadi lebih panas daripada tahun 2023,” kata Burgess.

Catatan Copernicus hanya kembali ke tahun 1940 dan didasarkan pada kombinasi pengamatan dan model prakiraan. Kelompok lain, termasuk Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dan NASA, Met Office Inggris, serta Berkeley Earth kembali ke pertengahan tahun 1800-an dan akan mengumumkan perhitungan mereka untuk tahun 2023 pada hari Jumat, dengan ekspektasi akan memecahkan rekor.

Meskipun pengamatan baru dimulai kurang dari dua abad yang lalu, beberapa ilmuwan mengatakan bahwa bukti dari cincin pohon dan inti es menunjukkan bahwa tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah terjadi di Bumi selama lebih dari 100 ribu tahun terakhir.

Di tengah rekor bulan-bulan terpanas, ada hari-hari yang sangat panas yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya, Copernicus mencatat hari di mana suhu rata-rata dunia mencapai setidaknya 2 derajat Celcius lebih tinggi daripada masa pra-industri. Hal ini terjadi dua kali dan nyaris melewatkan hari ketiga sekitar hari Natal.

Dan untuk pertama kalinya, setiap hari dalam setahun setidaknya satu derajat Celcius lebih hangat daripada masa pra-industri. Selama hampir setengah tahun (173 hari) dunia lebih hangat 1,5 derajat dibandingkan pertengahan tahun 1800-an.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement