Sabtu 24 Feb 2024 15:15 WIB

Paparan Polusi Udara Picu Penumpukan Plak Alzheimer di Otak

Orang yang lebih sering terpapar polusi udara lebih rentan alami plak di otak.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Studi terbaru yang dipublikasikan oleh American Academy of Neurology melaporkan kemungkinan hubungan yang mengkhawatirkan antara kabut asap dan demensia.
Foto: www.freepik.com
Studi terbaru yang dipublikasikan oleh American Academy of Neurology melaporkan kemungkinan hubungan yang mengkhawatirkan antara kabut asap dan demensia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan rahasia lagi bahwa polusi udara yang berhubungan dengan lalu lintas memiliki dampak berbahaya bagi paru-paru. Dan studi terbaru yang dipublikasikan oleh American Academy of Neurology melaporkan kemungkinan hubungan yang mengkhawatirkan antara kabut asap dan demensia.

Para ilmuwan mengatakan bahwa orang yang lebih sering terpapar polusi udara yang berhubungan dengan lalu lintas lebih mungkin mengembangkan plak amyloid dalam jumlah besar di otak mereka. Plak tersebut telah lama dianggap sebagai ciri khas patologi penyakit Alzheimer.

Baca Juga

Untuk lebih jelasnya, penelitian ini tidak menyatakan atau membuktikan bahwa polusi udara menyebabkan lebih banyak plak amiloid di otak. Namun, penelitian ini merinci suatu keterkaitan.

"Hasil ini menambah bukti bahwa partikel halus dari polusi udara yang berhubungan dengan lalu lintas memengaruhi jumlah plak amiloid di otak. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki mekanisme di balik hubungan ini,” kata penulis studi Anke Huels dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Study Finds, Sabtu (24/2/2024).

 

Para peneliti menilai materi partikulat halus (PM 2.5), yang merupakan partikel polutan berdiameter kurang dari 2,5 mikron yang tersuspensi di udara. Mereka kemudian memeriksa jaringan otak yang dikumpulkan dari 224 orang yang telah setuju untuk menyumbangkan otak mereka setelah meninggal untuk tujuan penelitian demensia. Rata-rata, para sukarelawan tersebut meninggal dunia pada usia 76 tahun.

Para peneliti berfokus pada paparan polusi udara yang berhubungan dengan lalu lintas untuk sampel otak. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan alamat rumah orang di wilayah Atlanta pada saat kematian mereka. Konsentrasi PM2.5 yang terkait dengan lalu lintas merupakan sumber utama polusi udara di berbagai wilayah perkotaan termasuk wilayah metro-Atlanta.

Tingkat paparan rata-rata pada tahun sebelum kematian mencapai 1,32 mikrogram per meter kubik (mg/m3) dan 1,35 mg/m3 pada tiga tahun sebelum kematian.

Ketika para peneliti membandingkan paparan polusi dengan ukuran penyakit Alzheimer di otak (plak amyloid dan tau tangles) ditemukan bahwa peserta yang memiliki tingkat paparan yang lebih tinggi terhadap kabut asap, dalam satu dan tiga tahun sebelum kematian lebih cenderung menunjukkan lebih banyak plak amyloid di otak mereka.

Orang dengan paparan PM2.5 1 mikrogram per meter kubik lebih tinggi pada tahun sebelum kematian, hampir dua kali lebih mungkin menunjukkan tingkat plak yang lebih tinggi. Mereka yang terpapar PM2.5 lebih tinggi dalam tiga tahun sebelum kematian 87 persen lebih mungkin memiliki tingkat plak yang lebih tinggi.

Para ilmuwan juga ingin mengetahui apakah varian gen utama yang terkait dengan penyakit Alzheimer (APOE e4) mengindikasikan adanya efek pada hubungan yang berkaitan dengan polusi udara dan tanda-tanda Alzheimer di otak. Pendekatan ini menghasilkan temuan bahwa hubungan terkuat antara polusi udara dan tanda-tanda Alzheimer ada pada orang-orang yang tidak memiliki varian gen tersebut.

"Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti polusi udara dapat menjadi faktor penyebab Alzheimer pada pasien yang penyakitnya tidak dapat dijelaskan oleh genetika," tambah Huels.

Namun demikian, studi ini memiliki keterbatasan yakni para peneliti hanya mengetahui alamat rumah para peserta studi pada saat kematian mereka untuk tujuan mengukur polusi udara. Dengan demikian, ada kemungkinan paparan polusi tidak diklasifikasikan dengan benar. Penelitian ini juga hanya melibatkan individu kulit putih yang berpendidikan tinggi, sehingga temuannya mungkin tidak mewakili populasi lain.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement