Rabu 29 Nov 2023 16:11 WIB

Suhu Hangat di Pasifik Tropis Picu El Nino yang tidak Normal

Gumpalan hangat di Pasifik Barat sebabkan lebih banyak hujan tropis turun.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
El Nino disebut tidak normal untuk tahun ini karena efek dari suhu yang hangat.
Foto: www.pixabay.com
El Nino disebut tidak normal untuk tahun ini karena efek dari suhu yang hangat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gumpalan air hangat yang muncul di Pasifik barat diduga kuat membuat El Nino berperilaku tidak normal tahun ini. Gumpalan yang terekam oleh satelit Climate.gov itu berada di dekat International Dateline, dan diprediksi dapat mempengaruhi cuaca di seluruh Amerika Utara pada musim dingin ini.

Profesor Ilmu Atmosfer di University of Albany, Paul Rondy, menjelaskan bahwa selama tahun-tahun El Nino, air hangat di Pasifik tropis bagian timur melepaskan panas ke atmosfer dan membuat suhu udara di atasnya meningkat. Namun hal itu tidak terjadi sekarang, karena menurut pengamatannya, suhu udara naik di Pasifik Barat.

Baca Juga

Sebagian dari udara ini mungkin bertiup ke arah timur dan menekan gerakan kenaikan suhu udara yang biasanya terlihat di sana. Udara yang bergerak naik akan membentuk sistem tekanan rendah yang terkait dengan hujan dan badai petir.

“Gumpalan hangat di Pasifik barat menyebabkan lebih banyak hujan tropis turun di sana, yang pada gilirannya mengurangi intensitas curah hujan lebih jauh ke timur karena udara yang naik di badai petir Pasifik barat mereda kembali ke permukaan lebih jauh ke timur, mengeringkan atmosfer,” kata Rondy seperti dilansir Live Science, Rabu (29/11/2023).

 

El Nino mungkin berperilaku tidak normal tahun ini karena efek yang tersisa dari 'triple dip' yang jarang terjadi pada peristiwa La Nina (kembaran El Nino yang dingin). La Nina menghasilkan efek pendinginan yang berkelanjutan di sekitar khatulistiwa dan Pasifik tropis bagian timur selama tiga tahun terakhir dan mungkin belum sepenuhnya hilang, demikian menurut Todd Crawford, seorang ahli meteorologi di konsultan prakiraan cuaca Atmospheric G2.

“Suhu laut yang tinggi akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia mungkin juga menjadi penyebab kehangatan yang tidak biasa di Pasifik barat,” tambah dia.

National Weather Service memprakirakan, kondisi El Nino yang kuat dapat bertahan selama musim dingin di Belahan Bumi Utara dan berlangsung hingga musim semi 2024, dengan kemungkinan 35 persen kejadian ini dapat menjadi sangat kuat dari bulan November hingga Januari.

"Peristiwa El Nino yang kuat meningkatkan kemungkinan anomali iklim yang berhubungan dengan El Nino, tetapi tidak selalu berarti dampak yang kuat," tulis lembaga pemantauan cuaca AS.

Musim dingin El Nino biasanya ditandai dengan massa udara hangat yang terbentuk di Alaska, Kanada bagian barat, dan bagian utara AS. Kondisi yang lebih dingin dan lebih basah biasanya mendominasi di negara-negara bagian selatan.

Menurut Rondy, kondisi serupa mungkin masih akan terjadi pada musim dingin ini, meskipun gumpalan udara hangat telah muncul. "Gangguan dari kehangatan Pasifik barat ini tampaknya menurun," katanya, seraya menambahkan bahwa air hangat yang terbentuk di sebelah timur International Dateline dapat memicu curah hujan yang lebih lebat di sana.

Semburan angin barat juga dapat mendorong air hangat yang berada di permukaan gumpalan air tersebut ke arah Pasifik timur. Hal ini akan mengekspos lapisan air yang lebih dingin di bawahnya dan mendorong sinyal El Nino yang lebih kuat dan normal untuk muncul pada musim dingin ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement